BLOG

TBTM

Saya sangat gemar menulis, bahkan ketika masih duduk di bangku SMA, saya sudah didapuk menjadi pimpinan redaksi buletin remaja skala nasional. Padahal saat itu saya masih harus banyak belajar tentang cara-cara menulis seperti menyusun struktur kata dengan benar, memperkaya kosakata, membuat tulisan enak dibaca, hingga mempengaruhi pembaca supaya bisa berbuat lebih baik dalam hidupnya.

Tak heran, pada tiap hari Sabtu dan Minggu, dari pagi sampai sore, saya selalu menghabiskan waktu saya di depan komputer bersama dua orang guru menulis saya. Mereka berdualah yang membimbing saya mulai dari nol, hingga mampu menulis dan menerbitkan buletin secara mandiri.

Saat ini saya dipercaya oleh rekan-rekan Kelab Penulis Muda (KPM) Surabaya untuk membimbing para penulis maupun calon penulis besar yang ingin belajar menulis dan menerbitkan karyanya. Sebulan sekali, saya bertemu dengan kelas KPM yang berisi rekan dengan penuh semangat untuk belajar menulis dalam workshop KPM.

Mengajar orang dengan karakter heterogen memang butuh perhatian ekstra dan ketekunan. Tak jarang saya mendapati beberapa peserta workshop mengeluh. Mereka merasa bahwa usahanya selama ini tidak sebanding dengan hasil tulisan yang diharapkan. “Kok sampai sekarang saya belum bisa menulis dengan baik ya Mas?” Ada juga yang berujar, “Kalau belajar terus, kapan bisanya?” Dan beberapa ungkapan lain yang bernada negatif.

Ada peserta yang ikut satu kali workshop lalu berhenti. Dua kali, terus mundur. Tiga kali, patah semangat. Namun adapula yang tetap bersemangat dan mengikuti pertemuan hingga lebih dari enam kali. Sebagian besar peserta yang berhenti mengungkapkan argumen bahwa mereka tidak mendapat perubahan yang berarti dalam tulisan mereka setelah sekali pertemuan.

Nah, disini saya ingin menjelaskan, bahwa setiap proses menuju keahlian tertentu termasuk menulis, tidak ada yang instan. Semua butuh proses dan proses itu selalu mengikuti sebuah siklus.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , , ,

Post a comment