BLOG

Wawancara dengan Pesantren Penulis

Saya: Dunia pelatihan pengembangan diri, presentasi dan slide adalah profesi saya. Bahkan perusahaan yang saya bangun (Kreasi Presentasi) fokus pada pelatihan dan workshop presentasi. Dunia ini sangat saya cintai. Semua karya saya adalah buku pengembangan diri, termasuk buku saya yang terakhir “Amazing Slide Presentation”.

Buku ini saya tulis karena presentasi terdiri dari 3 hal, yaitu konten, teknik dan media. Seringkali saya mengikuti seminar atau pelatihan, kontennya bagus, teknik penyampaian ok. Namun slide presentasinya diabaikan. Tampilannya jenuh dan membuat mata lelah, padahal menurut riset 83% penduduk dunia adalah orang-orang visual. Buku Amazing Slide Presentation yang saya tulis membimbing step by step untuk mendesain slide presentasi seperti halnya pembicara kelas dunia. Oleh karena itu buku saya ini melengkapi skill presenter supaya konten, teknik dan media presentasinya memukau.

Tanya: Apakah Anda menggunakan nama pena? Jika tidak kenapa? Dan jika iya, apa nama pena Anda dan kenapa memilih nama pena tersebut?

Saya: Saya tidak pernah menggunakan nama pena. Bagi saya, nama Dhony Firmansyah adalah amanah yang harus dijaga sebaik-baiknya. Orang tua saya memberi nama pasti memiliki alasan. Karena itu saya ingin tetap membawa amanah ini dalam setiap karya saya.

Tanya: Menurut Anda, bagaimana cara agar mudah menulis? Lalu, kebiasaan apa saja yang harus dilakukan seseorang jika ingin menjadi penulis? Mengapa?

Saya: Kita tidak tahu kapan ide itu datang. Supaya mudah dalam menulis, maka ketika ada ide, tulislah segera. Jangan ditunda-tunda. Anggaplah ide itu seperti rasa lapar dan menulis itu ibarat makanan. Jika Anda lapar, makanlah segera. Jika Anda ada ide, maka tulislah secepatnya.

Kebiasaan untuk jadi penulis, ya menulis. Untuk bias menulis maka kita harus punya banyak ide. Nah, untuk mendatangkan ide butuh inspirasi. Dan inspirasi bisa datang dari mana saja. Boleh jadi dari buku yang kita baca, aktifitas harian kita, teman yang kita temui dll.

Tanya: Setelah naskah rampung, bagaimana cara agar naskah kita bisa diterima dan diterbitkan oleh penerbit? Bagaimana cerita Anda saat mengirimkan naskah ke penerbit hingga layak diterbitkan?

Saya: Buku solo saya yang kedua “4 Cermin Flora” diterbitkan Gramedia. Penerbit terbesar di Indonesia. Dulu, supaya naskah saya diterima Gramedia, saya membeli dan membaca hampir semua buku best seller mereka. Saya pelajari alurnya dan saya cermati gaya bahasanya. Akhirnya saya memahami, bahwa buku yang bisa diterima oleh penerbit besar adalah buku yang memiliki karakter unik, boleh jadi yang pertama, terbaik atau berbeda. Dan dengan gaya bahasa yang sederhana.

Tanya: Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada siapa saja yang ingin menjadi penulis? Terutama bagi yang ingin menjadi penulis buku atau novel?

Saya: Setiap manusia memiliki batas waktu dalam hidupnya. Ketika batas waktu itu telah habis, maka kita akan meninggalkan dunia. Nah, ketika Anda sudah dibawa dalam keranda, Anda ingin dikenang sebagai apa oleh orang-orang yang menghantarkan Anda? Apakah Anda ingin orang-orang yang mengenal dan melayat ke rumah Anda membicarakan kebaikan atau keburukan Anda?

Jika kita ingin memberi kenangan kebaikan maka rintislah mulai sekarang. Jika kita ingin membuat keluarga, istri, suami, dan anak-anak kita bangga dengan amal kita, maka mulailah langkah itu sekarang.

Mulailah dengan menggoreskan jejak kebaikan di dunia, yang tidak akan hilang sampai kapanpun. Yang menunjukkan karakter Anda, semangat Anda dan kebajikan Anda. Dengan foto, orang tidak bisa menebak seperti apa diri Anda. Tapi dengan tulisan, orang akan langsung bisa menggambarkan siapa sesungguhnya sosok Anda.

Menulislah sekarang juga dan inspirasi dunia.

Salam Amazing.

Pelatihan Design Your Presentation bersama Pakar Slide

Pages: 1 2

TAGS > , , , ,

Post a comment