BLOG

Biasa Jujur

Sudah lebih dari sebulan saya di negeri sakura. Banyak hal yang bisa saya pelajari di sini tentang karakter warganya. Tentu saya tidak bisa menceritakan satu per satu dalam artikel ini, namun saya akan sharing satu karakter warga jepang yang biasa jujur.

Kurang lebih seminggu lalu istri saya dan Nada Kumiko mendapatkan surat untuk menghadiri aktifitas Youchien (taman kanak-kanak) berjalan-jalan ke taman Sugihara. Yang ada di benak saya, yang namanya jalan-jalan biasanya para siswa dinaikkan bus untuk berangkat sama-sama. Akan tetapi dugaan saya meleset, karena di surat undangan tertulis jalan-jalan, maka orang tua dan murid benar-benar berjalan ke taman sugihara. Ya, biasa jujur. Tidak ditambahi tidak dikurangi.

Pagi ini pun demikian, ada undangan dari sekolah untuk menanam ubi bersama orang tua di ladang sekolah. Sepengetahuan saya, jika telah melakukan aktifitas yang melelahkan, di Indonesia ada makan-makan orang tua dan anak. Namun lagi-lagi dugaan saya tidak tepat, setelah menanam ubi karena di undangan tidak disebutkan ada makan atau minum bersama, maka orang tua dipersilakan pulang, sedangkan mbak Nada masuk sekolah seperti biasa. Padahal istri saya sudah menyiapkan makan bento (bekal) makan siang untuk satu keluarga, termasuk saya dan Isam Naoki, hehehe rupanya pola pikir saya masih belum biasa jujur ya.

Oya, hampir setiap hari saya juga naik kereta untuk belajar bisnis di kota lain, dan saya selalu pulang tengah malam. Yang mengesankan adalah kejujuran para penumpang untuk tetap membayar tiket kereta, padahal tidak ada sama sekali petugas yang berjaga. Bahkan ada orang yang sengaja meninggalkan kekurangan uang tiketnya di dekat loket. Supaya nanti bisa diambil oleh petugas.

Saya tidak memuji negeri sakura, walau saya mengakui kesadaran para penduduknya sangat tinggi terhadap kejujuran. Hanya saja saya sharing ini karena seharusnya negeri kita pun bisa melakukannya. Butuh proses memang, tapi bisa kita mulai dari sekarang. Untuk hal ini, saya teringat perkataan istri saya yang mendengar ucapan seorang guru, “Saya hanya butuh 15 menit untuk mengajar matematika, namun butuh 15 tahun untuk mengajarkan arti kata antri pada murid-murid saya.”

Salam Amazing.

TAGS > , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply to Dhony Firmansyah Cancel Reply