BLOG

Takdir pun bisa Diubah

Pak, andaikata Tuhan menakdirkan saya menjadi orang miskin, apakah itu bisa diubah?” Celetuk salah satu peserta seminar yang menginbox saya lewat jejaring sosial. Saya pun menjawab, “Tentu saja… bisa.” Lho, kok bisa? Ya…, pasti Anda penasaran dengan jawaban saya. Di benak Anda mungkin muncul pemikiran, “Tuhan kan Maha Kuasa, mana mungkin diubah?” Nah…, sebelum berlama-lama dengan pola pikir yang membingungkan, inilah jawaban saya.

Tuhan memberi Anda potensi yang luar biasa. Kecerdasan, pola pikir, kemampuan memecahkan masalah dan sebagainya. Potensi ini diberikan-Nya secara cuma-cuma kepada manusia. Tidak perlu bayar, tidak perlu kredit. Yang harus kita lakukan hanya mengoptimalkannya, sesuai kemampuan kita masing-masing. Namun kemampuan itu tergantung kemauan, jika Anda mau, pasti Anda mampu. 

Nah, jika belum-belum Anda memvonis diri, Tuhan menakdirkan Anda untuk miskin, mohon maaf, bagi saya kita telah mendahului kehendak Tuhan. Dengan kata lain, kita telah merasa lebih tahu dari-Nya. Memang, dalam sebuah riwayat, Tuhan telah menuliskan garis hidup manusia, jodohnya, rezekinya, bahkan mautnya. Tuhan Maha Mengetahui. Namun di sisi lain, Tuhan Maha Adil. Ketentuan-Nya yang rahasia itu tidak pernah bocor ke tangan kita. Sehingga kita pun tak tahu siapa jodoh kita, seperti apa rezeki kita dan kapan maut menjemput.

Lho… Pak Dhony, tadi kan pertanyaannya hanya andaikata? Ya…, maka jika demikian, jawaban saya juga andaikata. Andaikata Tuhan menetapkan, apakah tidak boleh Tuhan mengganti ketetapan tadi? Tentu boleh kan. Sama seperti seorang Presiden yang membuat Keputusan Presiden (Kepres), tentu dengan mudahnya dia juga mampu menghapus Kepres itu. Presiden saja bisa, apalagi Tuhan yang Maha Kuasa.

Sebagai penguat, ada sebuah kisah di zaman Nabi Musa. Di sebuah malam, Nabi Musa didatangi oleh malaikat dan mengatakan bahwa, keesokan hari seseorang yang bernama fulan akan meninggal dunia. Keesokan harinya, betapa terkejutnya Nabi Musa, melihat orang tersebut masih segar bugar. Sehat. Nabi Musa pun bertanya kepada malaikat, “Wahai malaikat, bukankah seharusnya hari ini si fulan tadi sudah meninggal dunia?” Malaikat pun menjawab, “Benar wahai Musa, seharusnya hari ini ajalnya tiba, namun tadi malam, dirinya menyedekahkan separuh hartanya, dan Allah ridho padanya. Maka Allah menghapus takdir ajalnya dan menggantinya di waktu lain.”

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , , , , ,

Post a comment