BLOG

Surat Inspirasi Kehidupan

Untuk Anda, sahabatku yang tercinta…

Surat ini saya tulis untuk mengingatkan saya pribadi.

Sewaktu putri saya berumur dua tahun, bersama istri, saya mengajak si kecil pergi ke Kebun Binatang Surabaya (KBS). Satu-satunya tempat wisata alami yang berada di jantung kota Pahlawan. Meski saat itu Kebun Binatang Surabaya sedang mengalami permasalahan manajemen, yang mengakibatkan puluhan satwanya mati dengan mengenaskan, namun hal ini tak menyurutkan niat saya untuk menggandeng tangan putri saya pergi ke tempat tersebut. Maklum, wadah edukasi satwa yang positif, dekat dan alami hanyalah KBS. Sedangkan lahan-lahan kosong yang lain, telah beralih fungsi menjadi mall dan shopping center yang secara tidak langsung mengajari warga Surabaya untuk menjadi konsumtif.

Di dalam kebun binatang, si kecil girangnya bukan main. Dia lari kesana kemari dengan riangnya. Setiap hewan selalu menarik perhatian. Bibirnya yang kecil selalu bertanya, ini hewan apa, itu hewan apa. Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan. Perasaan bahagia terpancar dari wajah istri saya. Meski kondisi KBS kurang terawat, namun rasa bahagia ini tak ternilai dan tak tergantikan.

Ada satu hewan yang selalu dinanti oleh putri saya. Hewan itu adalah gajah. Ya, mamalia terbesar di darat ini membuat permata hati saya betah duduk puluhan menit untuk menonton aksi si raksasa daratan. Walau saya pernah mengajaknya beberapa kali menonton sang gajah, namun rasa bosan itu tak pernah muncul pada dirinya. Sambil menikmati makanan kecil, buah hati saya tetap antusias mengamatinya. Seperti belum pernah menyaksikan hewan itu sebelumnya.

Ketika melihat aksi jalanan gajah, raksasa maestro daratan, memori saya sekejap mundur beberapa waktu ketika masih berada di bangku perkuliahan. Di saat mengikuti kuliah Taksonomi Hewan Vertebrata, salah satu dosen memberikan informasi yang mengagumkan tentang gajah. Gajah adalah makhluk hidup dengan otak terbesar dan terberat di daratan. Otaknya memiliki massa hingga 5 kilogram. Gajah merupakan hewan dengan ingatan atau memori terlama. Gajah mampu mengingat kejadian yang menimpanya hingga belasan tahun silam. Hal ini terbukti dengan mudahnya seorang pawang gajah menjinakkan hewan tersebut. Ketika hewan liar lain seperti singa, harimau ataupun beruang memerlukan kandang sebagai jeruji untuk menjinakkannya. Seekor gajah hanya memerlukan seutas rantai dan sejumlah rumput hijau untuk membuat keliarannya menjadi luluh, berganti jinak dan bersahabat.

Untuk menjinakkan seekor gajah liar, seorang pawang cukup mengikat kaki gajah dengan rantai dan membiarkan gajah tersebut berusaha melepaskan diri. Setiap kali gajah tersebut berupaya lari, maka setiap kali juga gajah tersebut akan jatuh tersungkur karena kakinya tak mampu lepas dari belenggu rantai besi. Semakin banyak gajah tersebut mencoba, akan semakin sering pula dirinya akan jatuh. Maka, semakin sakit kaki gajah tersebut. Di saat gajah kelelahan dalam upayanya untuk melepaskan diri, saat itulah sang pawang datang dengan sejumlah rumput untuk memberi makan sang gajah.

Demikian proses sang pawang untuk menjinakkan gajah. Setelah berhari-hari dalam kondisi terikat rantai, sang gajah mulai menikmati keadaannya saat ini. Tanpa berusaha laripun, dirinya akan mendapatkan jatah makanan. Tak perlu jatuh dan tak ada rasa sakit. Memori yang kuat ini menancap erat di otak sang gajah. Ya, si gajah telah belajar mengingat. Sayangnya gajah tidak mampu membedakan mana memori yang positif dan mana memori negatif. Akhirnya, meskipun rantai tadi diganti dengan seutas tali rafia, sang gajah tetap tak akan berusaha lari dan setia menanti rumput dari sang pawang. Gajah juga sedia mentaati segala perintah pawang. Mengapa? Karena ingatan gajah masih menganggap bahwa kakinya tetap terikat oleh rantai besi. Bila dirinya berupaya lari, tidak akan mampu, dia pasti terjatuh.

Waktu di kebun binatang, saya dan keluarga juga sempat melihat seekor keledai yang sedang menikmati hijaunya rerumputan. Berlawanan sifat dengan gajah, ternyata keledai adalah hewan dengan memori yang sangat pendek. Sebagai perbandingan, keledai tak mampu mengingat, apakah sesaat sebelumnya dia telah merumput atau tidak, meskipun baru saja keledai tersebut melahap seonggok alang-alang yang telah memenuhi perutnya.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , , , , , , , ,

  • Puji Winarsih Soemardy

    It’s Great,pak….
    Insya Allah, will be a good person for ourself and for the others…..
    kesuksesan hidup ini harus kita jemput… bkn kita tunggu… dengan mengoptimalkan kemmpuan positif, dan mjdkn setiap kelemahan kita sbg ladang instrokpeksi diri bhw kt adalah mnsia yg kecil dan lemah dihadapan Allah…
    Terima kasih motivatorku…. inspirasi gajah dan keledai adalah 2 karakteristik yg mjdkanku becoming a good…better…and best for the next…

    Reply
  • Aldo Aressa

    Salam Hebat Manfaat !
    Amazing…Bapak satu ini emang top marince. Menambah ilmu harus dilakukan setiap saat dan dibagi kepada sesama agar lebih bermanfaat. Peluang yang ada juga harus bisa dioptimalkan. Tentu saja peluang yang positif untuk pengembangan diri.

    Reply

Post a comment