BLOG

Senang tak bisa Dipaksakan

Hampir dua minggu ini putra saya Isam Naoki “uthek-uthek” mainan lego yang saya beli di Nagoya. Melengkapi mainan lego miliknya yang dulu sebagian besar sudah hilang entah kemana. Hampir seharian, Naoki yang usianya baru mau menganjak empat tahun, asyik membuat bangunan, mobil-mobilan dan robot. Imajinasinya jalan kemana-mana. Kata istri saya, mainan puzzle seperti ini, bagus untuk melatih kreatifitas si kecil. Selain fokus, juga menambah intelektualitas. Saya pun mengiyakan, ini lebih baik daripada anak kita bermain game di smartphone, tablet maupun komputer yang memang membuat anak fokus, sayangnya tidak meningkatkan intelektualitas, malah menurut saya membuat logika anak kian menurun.

Isam Naoki asyik dengan Lego-nya

Berbeda dengan Mbak Nada Kumiko, sejak dulu dia suka menggambar dan membuat kerajinan tangan. Bila sekarang Anda ke tempat saya di Kariya, maka di dinding apato saya akan penuh dengan tempelan gambar dan kerajinan tangan buatan Mbak Nada. Karya Mbak Nada Kumiko pun banyak menghasilkan, ya…, menghasilkan kecintaan kami pada dirinya yang kian bertambah dan bertambah. Kesenangan dan hobi kedua anak saya tidak sama. Senang tak bisa dipaksakan. Dari kesenangan timbul keseriusan dan kepuasan. Perasaan ini dalam diri manusia berbeda-beda, termasuk juga di dalam diri anak saya.

Saya pun sekarang mencoba mengubah haluan dan cara berpikir saya tentang pendidikan dan profesi. Dulu, saya beranggapan bahwa saya harus menyukai semua mata pelajaran. Namun ini terbantahkan, karena guru-guru di sekolah pun tidak ada yang ahli lebih dari satu mata pelajaran. Apalagi, semakin tinggi pendidikan, keahlian makin mengerucut ke satu bidang. Lagi-lagi karena senang tak bisa dipaksakan. Sekarang, saya akan mencoba menggali kesenangan anak saya, supaya mereka melakukannya dengan gembira, menjadi hobi dan akhirnya membuahkan profesi. Setiap orang pasti mendambakan profesi yang dia sukai. Sudah enjoy, dibayar lagi.

Kesenangan terhadap suatu aktifitas inilah yang seringkali disebut passion. Keinginan atau hasrat menggebu untuk terus melakukan aktifitas itu. Saya pun merasa bahwa passion saya adalah desain slide presentasi dan menulis. Hampir setiap hari saya meluangkan waktu untuk berlatih desain slide di Keynote maupun Powerpoint, serta menulis minimal satu buah artikel yang diposting di berbagai media. Dari aktifitas saya inilah, Amazing Slide Presentation tercetus, sebagai pelatihan desain slide presentasi pertama dan terbaik di Indonesia. Dari dua aktifitas saya inilah, saya bisa berkeliling Indonesia, berada di negeri sakura, bahkan pulang pergi Jepang-Indonesia untuk memberi pelatihan slide presentasi. Alhamdulillah.

Lalu apa passion saya Pak? Jika Anda bertanya pada saya, tentu keliru. Karena hanya Anda sendirilah yang tahu kesenangan Anda. Senang tak bisa dipaksakan. Yang pasti, jadikan rasa senang tersebut menjadi sesuatu yang positif, jangan sampai membuang-buang rezeki, sebaliknya harus bisa jadi sumber rezeki.

Jika Anda suka jalan-jalan, contohlah rekan saya Mas Among Kurnia Ebo yang senang traveling, lalu menjadikannya sebagai lahan bisnis. Jika Anda suka kuliner, contohlah sahabat saya Mas Mono, yang punya puluhan cabang ayam bakar diseluruh Indonesia. Jika Anda suka presentasi, gabunglah dengan komunitas Akademi Trainer yang banyak memiliki event keren. Bila Anda senang outbound, berkenalanlah dengan sahabat baik saya, Mas Davied Vierronica yang bisnisnya maju di bidang training outbound.

Senang tak bisa dipaksakan. Namun senang saja tak cukup untuk bisa meraih hal positif terus menerus. Terus asah kesenangan Anda dan belajarlah dari orang-orang yang sukses karena kesenangan mereka.

Salam Amazing.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , , , , , , ,

  • Ahmed Tsar

    Sejak saya berteman dengan Mas Dhony di FB, saya perhatikan “eh unik juga profesinya, pakar slide.” Nah melalui tulisan ini, saya jadi tahu wow profesi itu sudah bisa membawa Mas Dhoni kemana-mana.

    Izin dowlad template presentasinya Mas

    Reply

Post a comment