BLOG

Rich Dad, Rich Son

Apa Anda pernah mambaca buku Robert T. Kiyosaki “Rich Dad, Poor Dad”? Ya, salah satu inti buku ini menyebut bahwa pola pikir orang yang bermental kaya dengan orang yang bermental miskin jauh berbeda. Keduanya saling berlawanan. Sebagai contoh, ketika seseorang yang bermental kaya mendapat gaji, yang ada di pikirannya adalah “bagaimana cara saya melipatgandakan pendapatan.” Sedangkan bagi orang yang bermental miskin, di saat memperoleh gaji, yang dipikirkannya adalah “untuk beli apa ya gaji saya ini nanti….

Lho, memangnya membeli sesuatu dari gaji tidak boleh? Hehe…, saya tidak pernah melarang, itu gaji kita, mau diapain terserah kita kok. Tapi tidak ada salahnya kan kita belajar supaya bisa bermental kaya. Sebagai contoh, orang yang bermental miskin membelanjakan gajinya untuk memenuhi gengsi dan prestige, sedangkan orang bermental kaya, akan membeli sesuatu sebagai investasi penghasilannya yang lain. Waduh, tambah bingung Pak. Wes… konkritnya gimana sih?

Mudahnya begini, Anda boleh saja membeli benda-benda lux, Blackberry misalnya. Dalam satu bulan, Anda semisal menghabiskan 100 ribu rupiah untuk abonemen Blackberry. Yang membedakan mental kaya dan miskin selain pola pikir, juga bagaimana menggunakan aset yang ada. Orang yang bermental miskin, akan menggunakan Blackberry sebagai ajang adu gengsi, dan menunjukkan bahwa dia “mampu”. Sedangkan orang yang bermental kaya, akan berpikir bagaimana abonemen yang dia habiskan dalam waktu sebulan,  kembali sebagai pendapatan yang berlipat di bulan selanjutnya. Bisa jadi selain pengguna BB, kita juga berjualan pulsa dengan menggunakan kartu langganan untuk konsumen pulsa yang tetap.

Anda bisa saja berlangganan modem internet 150 ribu sebulan, untuk browsing, bercengkrama di jejaring sosial dan sebagainya. Namun jangan sampai aset yang Anda miliki memiskinkan harta dan mental Anda, justru sebaliknya, gunakan aset itu untuk menjadi sumber penghasilan Anda yang lain. Anda bisa berbisnis online, menawarkan barang lewat internet, mengadakan pelatihan online dan sebagainya.

Lho Pak Dhony, pantas aja rekan saya kaya, kan ayahnya kaya. Saya kan terlahir dari keluarga miskin Pak, jadi ga mungkin bisa kaya. Nah, kaya atau tidaknya kita itu berawal dari pola pikir. Pola pikir yang negatif, justru akan menjadi keyakinan yang menghambat. Jika selamanya kita yakin bahwa kita akan kaya, maka demikianlah nasib kita kelak, begitupun sebaliknya. Bill Gates mengatakan, “Jika Anda terlahir miskin, itu bukan salah Anda. Namun jika Anda mati miskin, itu pasti salah Anda.” Pola pikir bisa menjadi kenyataan, jika kita meyakininya.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , , , , , ,

Post a comment