Percayalah, Anda Bisa!

 

Pemenang Weekly Notes Penerbit Leutika (www.leutika.com)

Klik untuk Melihat Posting Artikel di Leutika

Kehidupan di dunia ini laksana sebuah kompetisi besar. Kita dituntut untuk menjadi juara untuk kehidupan dunia sekaligus pemenang untuk kehidupan akhirat.

Memang, cita-cita “sukses di dunia-akhirat” terkesan ideal. Bahkan mungkin terlalu ideal. Banyak yang beranggapan susah meraihnya. Namun yang perlu kita sadari bahwa “susah” bukan identik dengan “tidak bisa”. Dengan kata lain, sebuah cita-cita yang ideal memang susah diraih, tapi jika kita berusaha sekuat tenaga, Insya Allah bisa.
Beberapa waktu yang lalu saya membaca status salah satu siswa saya, yang sepertinya ditujukan untuk saya. Sebut saja dia Belia.
Sensei.! maafkan muridmu yg gak lolos seleksi monbukagakusho ini~~ *histeris* ToT.”

Di bawahnya ada beberapa komentar teman-temannya. Salah satu dari mereka menanyakan alasan kegagalan Belia.
Kemudian Belia menjawab,

Kemaren kan tanabata tuh, and I hope.. “moga2 gak lolos” …eh, gak lolos beneran deh.. hahahaha *baka*

Beberapa waktu setelah UNAS, saya membantu Belia mempelajari soal-soal sebagai persiapan mengikuti tes beasiswa S1 ke Jepang dari Monbukagakusho (kementrian budaya, pendidikan dan olahraga Jepang). Rupanya Belia pesimis menghadapi tes ini. Dia tidak yakin akan kemampuannya. Bahkan ketika tanabata (festival menggantung harapan dan doa di ranting pohon, sebenarnya ini dilarang dalam agama saya), dia berdoa “Semoga tidak lolos”.
Saya ingat betul, dulu sewaktu dia akan mengikuti lomba pidato SMA se-Jawa Timur.

Dia selalu optimis. “Insya Allah saya bisa berikan yang terbaik, sensei!”.

Dan masih banyak kalimat positif yang dia ucapkan waktu itu. Demikian pula saya, pihak sekolah dan rekan-rekannya di sekolah. Semua mendukungnya. Durasi latihan kami hanya 2 minggu. Itu pun tidak setiap hari. Padahal rata-rata persiapan latihan pidato Bahasa Jepang SMA adalah satu bulan lebih.

Selama latihan pidato, Belia mengalami banyak kesulitan. Dia sering lupa sebuah kosakata, atau satu kalimat. Bahkan pernah lupa satu paragraf. Ditambah lagi aksen Jawanya, yang muncul tiba-tiba saat dia berpidato. Ini sangat berpengaruh pada penilaian lomba pidato.

Namun saya, selalu mengatakan “pasti bisa!”. Dan dia pun mengangguk, memejamkan matanya. Belia mengambil nafas dalam-dalam, lalu berlatih lagi. Saya yakin, dalam hati Belia berkata “Ya, aku BISA !”. Dan semua usaha positif yang dilakukannya pun membuahkan hasil. Dia menjadi juara dua, dan berhak melenggang ke tingkat nasional bersama sang juara satu.

Berbeda sekali ketika Belia belajar persiapan tes Monbukagakusho. Saya tidak melihat optimisme dalam dirinya. Konon orang tuanya tidak mengijinkan Belia pergi ke Jepang, apalagi dalam jangka waktu yang lama, kurang lebih empat tahun. Orang-orang di sekelilingnya pun sepertinya meragukan kemampuannya. Mungkin inilah salah satu faktor yang membuat Belia menjadi makin pesimis. Dan akhirnya Belia kurang maksimal dalam mempersiapkan tes.

Saya membaca sebuah artikel di sebuah blog tentang “Law of Attraction”. Ada sebuah kutipan yang bagus dari Michael Lebeuf :

Dalam kehidupan ini, kau akan menarik segala sesuatu dalam hidupmu melalui pikiranmu. Jadi berpikirlah, bertindaklah, serta berbicaralah dengan antusiasme yang tinggi, maka kau pun akan mendapatkan hasil yang positif.

Sebenarnya hukum tarik-menarik layaknya magnet ini, bukan hal yang baru. Mungkin hanya kemasannya saja yang dibuat fresh. Tujuannya adalah keberadaan inovasi dalam dunia motivasi. Dalam agama saya -Islam-, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

Allah berfirman: Aku berada pada prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku. Jika ia berprasangka baik maka ia adalah untuk dirinya sendiri dan jika ia berburuk sangka terhadap diri-Ku maka itu adalah untuk dirinya sendiri”.

Jadi, bila kita berpikiran positif, maka insya Allah hal yang positif itu akan kita peroleh. Sebaliknya, jika kita berpikiran negatif, maka hal negatiflah yang akan kita tuai. Banyak sekali kisah nyata yang sepertinya tidak masuk akal, tapi karena pikiran positif yang begitu kuat, hal itu bisa menjadi nyata. Salah satunya, Jamil Az-Zaini , keluarga beliau adalah keluarga termiskin ke-dua di Lampung.

Semasa sekolah, beliau selalu menuliskan “Nama saya Jamil, kalau besar nanti, saya akan menjadi insinyur pertanian.” di setiap sampul buku tulisnya. Tentu saja ini mengundang tawa dan cemoohan dari teman-temannya. Namun, beliau mengabaikan hal-hal yang negatif tersebut. Beliau justru menjadi lebih teguh pada cita-citanya. Dan power energi positif itu sekarang membuktikan bahwa Pak Jamil Az-Zaini bisa menjadi sarjana pertanian dari Institut Pertanian Bogor. Bahkan beliau sudah menamatkan S2 di almamater yang sama. Luar Biasa.

Saya yakin, saya BISA sukses. Belia, yakinlah kamu juga BISA. Masih ada kesempatan lagi tahun depan. Dan untuk Anda, Anda pun PASTI BISA meraih impian hidup di dunia dan Insya Allah di akhirat nanti. Maka, masihkan kita berprasangka negatif akan hidup kita? (is)

(Silakan mengkopi-paste artikel dan link di blog ini dengan menuliskan sumbernya. Terima kasih)

2 thoughts on “Percayalah, Anda Bisa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISI DULU YA * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.