BLOG

Mukhsin, Keteladanan dalam UAN

Para pemenang kehidupan, saya akan mengenalkan Anda dengan sahabat baik saya. Mukhsin, begitulah orang-orang memanggilnya. Mukhsin adalah seorang siswa sebuah SMA swasta di Surabaya. Ayahnya seorang wiraswasta. Pedagang tas dan reparasi jam tangan di sebuah pasar tradisional Surabaya.

Ada sebuah kisah yang cukup berkesan dalam hidup saya saat berbincang dengan Mukhsin. Cerita ini saya bagi dengan Anda dengan harapan bisa mengambil pesan kebaikan yang tersirat. Beberapa tahun lalu, Mukhsin duduk di bangku SMA kelas tiga. Bulan itu merupakan waktu penentuan bagi Mukhsin untuk menentukan masa depannya. Sehari sebelum UAN, Mukhsin mengirim sebuah SMS ke saya yang berisi permohonan, supaya saya mendoakan kelulusan dia dan kawan-kawannya serta kelancaran pelaksanaan ujian yang akan dijalani. Saya menjawab, “Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi Mukhsin dan kawan-kawan. Semoga sukses.”

Pagi hari sebelum UAN dimulai, Mukhsin mendapati beberapa temannya bercengkrama di depan sekolah, tampaknya mereka membicarakan sesuatu hal yang penting. Betapa kagetnya Mukhsin, ketika dia mengetahui sahabat-sahabatnya sedang membahas bocoran jawaban soal UAN. Mukhsin sendiri tak tahu gosip tersebut berasal darimana, namun berdasar kesaksian teman-temannya, justru sumber ketidakberesan ini adalah seorang oknum guru sekolah mereka.

Menurut rekan Mukhsin, oknum guru tersebut telah mempersiapkan beberapa strategi untuk membagikan kunci jawaban kepada murid-muridnya, saat UAN berlangsung. Baik lewat sms, jawaban alfabet yang tertulis di dinding toilet dan beberapa cara lain, yang katanya bisa menjamin kelulusan siswa-siswinya. Untuk apa? Konon saat itu guru dituntut mampu mendidik siswa-siswinya dengan sungguh-sungguh. Indikator kesungguhan guru dalam membina murid-muridnya adalah tingkat kelulusan yang tinggi pada saat UAN.

Sehingga, bisa diasumsikan, bila tingkat kelulusan murid-murid di sekolah tersebut rendah, maka kemampuan guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut semakin diragukan. Tingkat kepercayaan masyarakat yang rendah akan membuat nama sekolah juga menjadi taruhan. Walhasil, guru yang tidak berpikir panjang, akhirnya memilih jalan kecurangan dalam UAN. Yang penting, murid saya bisa lulus, dan nama sekolah bisa tetap terjaga. Mungkin seperti itulah keputusan yang ada di dalam hati sang guru.

Benak Mukhsin mulai bergolak. Dia tahu bahwa ini salah, dan tak boleh dibiarkan. Mukhsin sempat bimbang, apakah dia akan mendatangi oknum guru tersebut atau tidak. Kegundahan Mukhsin yang tampak dalam raut wajahnya, terbaca oleh Rizki, sahabat dekatnya. Rizkipun menanyakan, ada apa gerangan dengan rekan baiknya tersebut. Setelah mengetahui sebabnya, Rizki hanya tersenyum, dan menepuk bahu Mukhsin sambil berkata, “Mukhsin, kita ga bisa melawan ini. Ini sudah tersistem. Aku jamin, bukan hanya satu guru saja yang terlibat. Hampir semua guru pasti tahu. Bahkan oknum guru ini ga akan berani berbuat, tanpa izin dari Kepala Sekolah.”

Mukhsin kemudian termenung. Perkataan Rizki cukup masuk akal. Untuk memberikan jawaban UAN dalam beberapa bidang studi, satu guru saja tidaklah mungkin. Butuh guru lain yang membantu dengan bidang studi yang dikuasai. Semisal, saat UAN Bahasa Indonesia, guru Matematika tidak akan bisa berbuat banyak memberi jawaban. Dia butuh guru Bahasa Indonesia. Dan begitu sebaliknya.
Sudah, kita jalani aja UAN ini dengan jujur. Kita kerjakan sendiri. Ga usah menuruti apa kata teman-teman dan guru kita bila ada bocoran soal. Nanti soal balasan, kita serahkan saja pada Allah, kebaikan dan keburukan Dia-lah yang berkuasa.” Perkataan Rizki membuyarkan lamunan Mukhsin. Dia pun mengiyakan, walaupun hatinya masih gundah dan tak tenang.

Akhirnya perjuangan Mukhsin menghadapi UAN dimulai. Hari demi hari dia lewati dengan perasaan tak menentu. Setiap bel ujian dibunyikan, akan selalu ada kecurangan demi kecurangan. Dan argumentasi Rizki benar. Ini sudah tersistem. Hampir semua guru tahu dan turut serta. Mukhsin sendiri hanya mampu berdoa dan beristighfar. Dia sama sekali tak menghiraukan jawaban UAN yang nyata berseliweran di hadapannya. Mukhsin tak peduli anggapan rekan-rekannya yang menyebutnya sok pintar, sok cuek, sok alim dan berbagai sebutan yang kurang pantas saya tuliskan disini. UAN yang diharapkan Mukhsin mampu berlangsung dengan jujur dan penuh tanggung jawab, ternyata dinodai sendiri oleh guru yang selama ini dia hormati dan kagumi.

Akhirnya hari pengumuman kelulusan UAN pun tiba. Mukhsin menghadapinya dengan berdebar-debar. Tapi dia yakin, dia pasti lulus. Meskipun dia mengerjakan ujian seorang diri tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT yang selalu menjadi pembimbing dan penenang hatinya di kala kalut. Satu-persatu nama di papan pengumuman dia telusuri. Di sela-sela histeria dan sorakan teman-temannya yang telah mendapati mereka lulus UAN. Ya, kelulusan yang mempertaruhkan kejujuran mereka. Kelulusan yang menurut Mukhsin penuh kepalsuan, yang hanya mementingkan nilai semata. Mukhsin mendapati nama rekan baiknya Rizki. Namun hingga nama terakhir dia baca, tak ada satupun kata ”Mukhsin” yang tertera di papan pengumuman. Ya, Mukhsin gagal. Mukhsin tidak lulus UAN. Mukhsin satu-satunya siswa di SMA tersebut yang tidak mendapat nilai di atas standar kelulusan. Ini adalah sebuah kenyataan pahit, tapi mau tidak mau Mukhsin harus menghadapinya.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , ,

  • dokterdiaz

    saya pribadi sudah kenal dengan mas Mukhsin, beliau sekarang alhamdulillah telah kuliah di Madura.

    Saya ingin membahas kejujuran dalam konteks lain. Persepsi lain. Bagaimana memandang kejujuran bukan hanya sebagai sifat yang baik dan mulia, tapi juga sebuah komoditi personal yang luar biasa.
    Dalam social circle saya yang lain, hal ini sering kita sebut: Radical Honesty.
    Jika sempat, saya akan menulis tentang ini.

    Reply

Post a comment