Mensyukuri Profesi

Sebagai seorang trainer, saya memahami benar apa resiko pekerjaan saya. Seringkali saya harus keluar kota lebih dari seminggu untuk memberikan materi pelatihan slide presentasi maupun training infografis. Seperti halnya dalam minggu ini, setelah bekerja sama dengan tim multimedia ESQ selama 2 hari, dilanjutkan ke Kanwil DJP Wajib Pajak Besar Sudirman, inhouse training di Bank Indonesia dan berakhir dengan inhouse training di BNI Life Jakarta sebelum kembali ke Surabaya. Di satu sisi saya mencintai profesi ini, membuat saya bersemangat dan bergairah. Di sisi lain saya juga mencintai keluarga, sangat-sangat mencintai mereka. Hal inilah yang membuat saya harus pandai menjaga profesionalitas dan perasaan saat pelatihan. Dan untunglah istri dan anak-anak saya memahami hal ini. Inilah yang membuat saya makin mensyukuri profesi dan bersyukur pula memiliki keluarga yang mampu mengerti.

Anak-anak saya saat ini usianya masih kecil dan belum dewasa. Mbak Nada Kumiko usianya baru delapan tahun, sedangkan Isam Naoki, si kecil yang ganteng usianya baru lima tahun. Dulu, ketika tinggal di Jepang, saya pernah harus meninggalkan mereka sekitar dua minggu ke Indonesia. Mbak Kumiko dan Mas Naoki sering menangis saat saya menelpon keluarga di rumah. Kangen, kata mereka. Saya pun berbincang dengan istri, dia akan berusaha memahamkan anak-anak kami, sedangkan saya diminta untuk sementara tidak menelpon ke rumah saat di Indonesia.

Istri saya pun kemudian mengajak anak-anak bicara, menjelaskan pada mereka apa pekerjaan Ayahnya. Kadang mereka tak terima, dan membandingkan dengan keluarga lain yang Ayahnya bisa pulang ke rumah setiap hari. Istri saya pun mengatakan, “Lho… bukankah kalau Abi di rumah, Mbak Kumiko dan Mas Naoki bisa main bareng Abi sepuasnya. Main bola, main layangan, mancing ikan… tapi kan ga selamanya kudu main terus. Abi kan harus kerja untuk bisa bayar sekolah Mbak dan Adik. Abi kan jadi ketua keluarga. Kayak ada teman Mbak Nada yang jadi Ketua Kelas. Kalau Abi ga kerja, dalam agama itu berdosa. Kan Mbak diajari Ustadzah juga.. kalau bekerja itu ibadah.”

Sambil berkaca-kaca, Mbak Kumiko mengangguk. Berat memang. Namun apapun itu, mau tidak mau secara perlahan Mbak Kumiko dan Mas Naoki harus mengerti apa pekerjaan saya sebagai Ayah.

Istri saya pun kemudian mengajak Mas Naoki dan Mbak Kumiko untuk sholat bersama, dan mendoakan saya. Istri saya kadang mengatakan, dia melihat Mbak Kumiko meneteskan air mata saat mendoakan saya. Mendengar hal ini, saya tak tahu apa yang harus saya katakan, bangga, sedih, bahagia memiliki mereka sebagai keluarga. Inilah yang membuat saya yakin, bahwa ketika rezeki saya dan keluarga dilancarkan, itu semua bukan karena usaha keras saya, pembelajaran saya, maupun kemampuan saya. Namun kelancaran itu hadir dari doa istri dan anak saya. Disana ada tetes air mata mereka, ketulusan dan keikhlasan mereka dalam melepas saya untuk bekerja. Inilah yang membuat saya kian memsyukuri profesi.

Karena itulah saya tidak pernah main-main dalam memberikan materi workshop slide presentasi dan infografis. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik. Memberikan lebih dari harapan peserta. Totalitas dalam pekerjaan. Bagi saya itulah mensyukuri profesi. Mengerjakan sesuatu dengan optimal saat Tuhan memberi kesempatan.

Terima kasih istriku, kau telah memahamkan buah hati kita tentang apa arti pekerjaan dan ibadah.

Terima kasih Mbak Kumiko, sudah mendoakan Abi dengan tulus. Abi sayang Mbak…

Terima kasih Mas Naoki, sudah pinter dan bantu Mama di rumah.

Insya Allah Tuhan akan selalu menaungi keluarga kita dalam keberkahan.

I love u all.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISI DULU YA * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.