BLOG

Menepati Janji

Agama mengajarkan kita untuk selalu menepati janji. Apalagi jika janji itu berhubungan dengan orang lain. Janji adalah hutang. Hutang wajib dibayar. Jangan sampai gara-gara janji yang belum tuntas, langkah kita tertahan di pintu surga. Jangan sampai gara-gara janji yang tidak ditepati, pahala kita semuanya diambil, hingga dosa kita jauh lebih berat dan mendorong kita terjerumus ke neraka. Naudzubillah.

Dengan segala keterbatasan, saya berusaha untuk menepati janji. Bahkan pada si kecil. Pernah, putra saya Mas Naoki meminta saya untuk dibelikan mainan dari Jakarta. Sehabis training Amazing Slide, saya pun mencarikan mainan pilihannya. Mainan itu pun saya bawa pulang ke Surabaya untuk saya berikan padanya. Matanya berbinar saat mendapat mainan itu. “Dari Jakarta ya Bi…” Saya pun menganggukkan kepala dan Mas Naoki pun memeluk saya erat.

Pernah di waktu lain, saya berjanji untuk mengajak putri saya Mbak Kumiko main “ambil boneka” di taman bermain. Sayangnya, karena saat itu putri karyawan saya ada yang sakit, maka saya pun membatalkan janji pada Mbak Kumiko dan menjenguk putri karyawan saya tadi. Sepanjang perjalanan pulang saya meminta maaf kepada Mbak Kumiko. Saya puji dia karena telah mengizinkan saya untuk membatalkan janji main bareng, demi menjenguk orang yang sakit.  Mata Mbak Kumiko pun memerah. Saya tahu ini berat bagi anak seusianya. Keinginan bermainnya tertahan. Saya pun memeluknya dan berjanji mengganti main “ambil boneka” di waktu yang lain.

Saya pun pernah beberapa kali alpa berjanji pada istri saya. Tak jarang, saya meminta maaf karena lupa untuk menepati janji. Berat memang meminta maaf, tapi itu sudah konsekuensi sebuah janji yang tak mampu ditepati. Maafkan aku ya Mama…

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Post a comment