BLOG

Memarketkan Diri

Suatu ketika saya pernah di telepon oleh salah seorang rekan, dan dia bercerita tentang sebuah depot soto yang terkenal di Surabaya. Dia mengatakan, “Dhon, kemaren aku diajak oleh teman kantorku ke depot soto itu. Wuih, ruame banget. Mobilnya berjejer-jejer. Apalagi kalau makan siang, bakal sesak tuh.”

Saya pun menanggapinya dengan penasaran, “Memangnya enak banget ya.” Dia pun menanggapi, “Wah, awalnya aku juga ragu kok. Apalagi pas soto disajikan di depan mataku. Gileee…, gedhe banget porsinya. Aku sih sempat bandingin dengan makanan di hotel, biasanya kan yang enak-enak porsinya dikit. Negatif thinking juga sih awalnya. Ini sih porsi kuli bangunan. Tapi setelah aku coba, uenak Men…., padahal panas tuh, aku sruputin juga. Hehehe. Ga nyadar, belum 5 menit, udah abis.”

Widih, itu memang enak atau dirimu yang lapar? Hehe.” Dia pun menanggapi, “Aku serius lho.” Saya pun menimpali, “Aku juga serius. Hehe.” Dia akhirnya menjawab, “Beneran nih Dhon, uenak banget, gua ga sabar pengen kesana lagi. Eh, kamu mau ikut ta?” Saya pun menjawab, “Boleh banget, dari ceritamu kelihatannya enak banget, penasaran nih.”

Kisah ini benar adanya. Saya mengenal rekan saya itu lebih dari 7 tahun. Dia bukan marketing depot soto itu. Dia pun tidak memiliki hubungan sanak saudara dengan pemilik atau salah satu karyawannya. Namun dirinya dengan lancar dan detail menceritakan depot soto yang baru saja dia datangi. Baginya pelayanan dan rasa makanan di depot soto itu begitu berkesan, hingga dengan rela hati bercerita kepada orang lain. Tanpa dibayar, tanpa komisi, tanpa royalti. Secara tidak sadar, dia telah memarketingkan depot soto itu. Dan menurut riset Victor Antonio, seorang pakar sales, referensi rekan yang dipercaya lebih manjur 80% untuk mendatangkan konsumen ke sebuah tempat yang baru, daripada referensi dari sales tempat tersebut.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , , ,

  • Princess Amanda @princess_coach9

    KerON banget artikel nya mas dhoni ….sgt menginspirasi 🙂

    Reply

Post a comment