BLOG

Media dan Pembelajaran Karakter Sosial

Anda pernah melihat acara TV Champion, yang tayang setiap petang di sebuah stasiun televisi swasta? Sebenarnya konten acaranya tak jauh beda dengan perlombaan 17 Agustusan di kampung-kampung. Ataupun perhelatan kuis yang disajikan di stasiun televisi yang lain. Lalu apa yang membedakan? Saya melihat, TV Champion mengumpulkan orang-orang dengan bakat yang luar biasa di negeri sakura. Lalu kompetisi diadakan diantara mereka. Selain menonjolnya kemampuan dan keahlian, TV Champion menonjolkan karakter dari orang Jepang yang fair play dan penuh semangat. Sebuah fakta yang minim saya rasakan di negeri ini.

Bukan sebuah rahasia, media massa dan elektronik adalah sumber segala informasi dan pengetahuan. Termasuk di tangan media, karakter penduduk sebuah negeri akan terbentuk. Ketika sebuah media memberikan informasi yang bersifat positif, membangun dan memajukan, maka lambat laun opini yang terbentuk di masyarakat akan terbangun positif pula. Sebaliknya, bila media mengedepankan isu kontroversial, dunia kriminalitas dan kekerasan, tak heran, jiwa edukatif yang terbentuk di masyarakat juga akan tergambar dengan kelam.

Media mengajak pemirsanya untuk belajar melalui pengamatan, atau observational learning. Arti belajar disini adalah terjadinya perubahan perilaku dalam diri pembelajar. Menurut Albert Bandura, ada empat fase penting yang akan dilewati oleh seorang pembelajar dalam melakukan pengamatan.

Yang pertama adalah Atensi. Seseorang akan belajar dengan fakta yang dipaparkan oleh media. Ketika seseorang memberikan perhatian pada tampilan atau tayangan yang diberikan oleh media. Sebagai contoh, kita pernah membaca pemberitaan seputar kasus pencabulan atau pemerkosaan. Dimana pelaku merasa terpengaruh oleh tayangan video porno yang sebelumnya dia lihat. Tentu saja, sebelumnya pelaku menaruh perhatian yang sangat besar ketika video porno itu diputar, sehingga berdampak terhadap pola pikir dan tindakannya kemudian.

Kedua adalah Retensi. Untuk memberikan sebuah efek terhadap pembaca media massa, atau penikmat media elektronik, maka media harus menyampaikan sebuah informasi secara berulang-ulang dan terus-menerus. Informasi yang datang secara bertubi-tubi akan melekat di dalam benak pemirsa. Seringkali kita melihat tayangan demonstrasi yang berakhir dengan kericuhan. Saking maraknya kasus kericuhan akibat aksi protes, masyarakat memandang demonstrasi sebagai sebuah hal yang negatif. Inilah yang muncul di benak masyarakat tentang demonstrasi. Padahal cukup banyak juga demonstrasi yang mengajak kepada aksi solidaritas atau pengumpulan dana. Kericuhan biasanya terjadi ketika salah satu pihak menolak untuk bertemu atau berdialog (umumnya yang menolak adalah pejabat). Padahal dengan bertatap muka, aksi negatif bisa diminimalisir. Dan esensi demonstrasi sebagai salah satu ekspresi berpikir kritis dan usaha mengoreksi penguasa akan tetap terjaga.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , ,

  • Pelatihan Motivasi

    terima kasih pak, saya sepakat kita harus memilih dan memilah tayangan televisi, sebab akan berdampak kepada kita..

    – Rizal –

    Reply

Post a comment