BLOG

Mandiri Sejak Dini, Kenapa Tidak?

Hari ini saya ada meeting dengan tim Kreasi Presentasi untuk mematangkan konsep Kursus Online Powerpoint Optimation. Di sela waktu break, salah satu rekan bercerita tentang adiknya yang masih suka meminta uang padanya, padahal dirinya sudah lulus SMA dan mau melanjutkan ke perguruan tinggi. Ya.., calon mahasiswa.

Mendengar ceritanya, saya jadi teringat kisah rekan saya yang punya seorang putra. Dirinya mendidik putranya untuk mandiri sejak dini. Keluarganya tergolong mampu, namun dia memiliki prinsip lain untuk membina mental anaknya. Anaknya yang saat itu masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar seringkali tidak diberi uang saku. Namun diberi berbagai macam barang untuk dijual di sekolah. Keuntungannya, sebagian ditabung, diinfakkan, dibuat membeli peralatan sekolah dan uang saku untuk dirinya sendiri.

Beda lagi dengan putra Pak Jamil Azzaini. Karena didikannya yang luar biasa, sejak SMA sang putra sudah memiliki penghasilan bulanan sendiri sekitar 2 juta rupiah. Saat ini putra beliau sedang melanjutkan kuliah di Jerman.

Saya sendiri dididik oleh orang tua saya untuk mandiri sejak kecil. Dan hal ini tampak ketika saya masuk usia remaja. Saya sudah mengajar les pelajaran sekolah dimana-mana, saya membina tempat belajar Al Qur’an di rumah, dan saya juga mengajak rekan-rekan yang lain untuk belajar bersama. Pantas saat itu daerah rumah saya disebut dengan ‘Kawasan Cerdas’, karena anak-anak kampung yang awalnya malas belajar menjadi rajin dan berprestasi. Saya pun memperoleh banyak pendapatan dari sana. Dan ini sangat bermanfaat untuk membantu biaya studi saya saat itu.

Alam pun mengajari kita untuk mendidik anak-anak kita menjadi mandiri dan tidak manja. Tidak menggantungkan diri pada orang lain. Kasih sayang memang penting, tapi harus bertujuan mendidik mereka untuk mandiri. Burung elang pun demikian, dirinya memang menyuapi anak-anaknya ketika baru menetas dari telur, namun setelah sang anak memiliki bulu dan sayapnya siap untuk terbang, dirinya mengajak sang anak untuk naik ke tempat yang tinggi dan meminta mereka untuk melompat. Mau tidak mau sang anak harus mengepakkan sayapnya, karena taruhannya adalah nyawa.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , ,

Post a comment