BLOG

Mahalnya Sebuah Proses

Kemarin, saya ikut serta di acara Hari Orang Tua dan Anak, Aichi University of Education bersama istri dan dua anak saya. Acaranya pun mengasyikkan. Suhu nol derajat di kota Kariya, seakan tak terasa. Gedung perkuliahan 2 lantai diubah menjadi taman bermain. Tiap-tiap ruang kuliah menyajikan games yang berbeda-beda. Ada ruang belajar origami, membuat hiasan dari lilin, boneka balon, bermain alat musik dan sebagainya. Lebih dari 50 mahasiswa volunteer memandu acara yang berlangsung lebih dari 4 jam itu. Saya melihat sisi yang berbeda disini, selain kegembiraan dari keluarga, ada sebuah hal sangat berharga yang coba diajarkan disini, yaitu mahalnya sebuah proses.

Setelah masuk ruang kelas, anak-anak dan orang tua disuguhi persembahan yang berbeda-beda. Tapi semua isinya sama. Bermain sambil belajar. Seringkali anak-anak tak sadar bahwa mereka sedang mempelajari sebuah proses yang penting. Kelas origami misalnya, melatih logika dan seni. Logika dalam melipat kertas dan seni saat menghiasnya. Demikian juga kelas kerajinan lilin. Anak-anak bermain membuat bunga lilin yang sejatinya adalah proses sederhana dari industri lilin. Apapun hasil dari anak-anak yang bermain, pihak panitia terus memandu dan selalu memuji. Setelah usai bermain dalam 1 kelas, maka pihak panitia pun mempersilakan anak-anak untuk membawa pulang karyanya dan menghadiahkan selembar kertas kecil yang berisi kata-kata motivasi dengan gambar yang lucu dan menggemaskan.

Nada Kumiko dan Isam Naoki di Hari Orang Tua & Anak.

Sebelum usai, pihak panitia mengumpulkan semua anak dan orang tua, lalu mempersilakan mereka mengambil dekorasi acara yang terpampang di sepanjang gedung. Mereka pun berhamburan mengambil dekorasi yang mereka sukai untuk dibawa pulang. Setelah kembali ke apartemen, saya pun nyeletuk pada istri saya, “Lho, kok Mbak Nada dan Mas Isam cuma dapat kertas kecil berisi tulisan gini doang…?” Istri saya pun menjawab, “Lha.. kan Mas masih kebawa cara berpikir kuno..

Saya berujar, “Kuno? Maksudnya?”

Mas kan berpikiran dapatnya apa. Kenapa Mas tidak bertanya bagaimana semangat Mbak Nada dan Mas Isam disana? Bagaimana perasaan mereka saat main? Bagaimana keseriusan mereka ketika mengerjakan tugas? Bagaimana keceriaan panitia dan anak-anak di dalam kelas? Inilah proses Mas. Inilah arti mahalnya sebuah proses. Mas terlalu fokus pada hasil. Bukan proses. Itu cara berpikir masa lalu. Itu cara berpikir orang-orang yang pengen cepet sukses tapi ga mau susah payah. Yang penting itu prosesnya, masalah hasil, itu urusan Tuhan. Hasil yang optimal pasti mengikuti proses yang optimal juga.

Deg… saya pun tersadar. Benar kata istri saya. Anak-anak disini diajari pentingnya proses, bukan hasil. Yang diajarkan adalah semangat, kesungguhan, pantang menyerah, keceriaan, dan sebagainya. Bukan nomor satu atau nomor dua. Saya masih ingat ketika putri saya Nada Kumiko mengikuti Undokai (hari olah raga) di sekolahnya. Saat itu lomba lari estafet, dan tim Mbak Nada berhasil jadi juara satu. Tim lain yang kalah tetap berusaha menyelesaikan lomba meski tahu mereka sudah kalah. Meski mereka memasuki garis finish dengan menangis. Sebagai penghormatan, baik yang menang maupun yang kalah mendapat hadiah piala dari guru masing-masing.

Nada Kumiko dan teman-temannya di acara Undokai.

Ya, inilah mahalnya sebuah proses, sesuatu yang dulu hilang di masa kecil saya. Tak heran, saya dulu tidak mengenal kata antri, pengen sesuatu yang cepat selesai, pengen cepat kaya, pengen cepat sukses, tanpa memperhatikan proses, semangat, jatuh bangun, kerja keras dan sebagainya. Padahal proses ini sangat mahal, butuh puluhan hingga ratusan tahun untuk menumbuhkan kesadaran. Namun jika sudah terbentuk dalam masing-masing individu, sebuah negara akan cepat maju dan punya peradaban yang lebih baik.

Mahalnya sebuah proses, benar-benar saya pahami ketika berada di negeri sakura. Semoga ketika saya kembali ke Indonesia, saya pun bisa menularkan pengalaman ini pada orang lain melalui seri training Amazing Slide Presentation dan tim Kreasi Presentasi.

Salam Amazing.

TAGS > , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Post a comment