Larilah Shofa Marwa

Pro dan kontra masalah passion sampai sekarang masih tetap ada. Satu motivator bilang “ikutilah passionmu.” Di sisi lain mengatakan, “Kalau kau menunggu passion kelamaan. Lakukan saja apa yang menghasilkan.” Saya bukan yang pro atau yang kontra. Saya hanya ingin menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk berhasil meraih sesuatu adalah bersungguh-sungguh dan berusaha. Kerja keras pasti menghasilkan sesuatu.

Masih ingat kisah istri Nabi Ibrahim, Hajar yang kehabisan bekal makan dan minum. Dia harus mencari air demi dirinya dan Ismail, putra nya yang masih bayi. Kesana kemari dia berlari. Dari bukit Shofa ke Marwa, bolak balik, bukan sekali.. hingga tujuh kali. Setelah putaran ke tujuh, dirinya memang tidak mendapatkan setetes air diantara bukit itu. Lelah, penat, hampir putus asa. Namun siapa yang mengira, dari kaki Ismail yang menggeser-geser tanah, keluarlah mata air yang hingga sekarang kita kenal dengan Zam-zam.

Saya pun dulu demikian. Saya ingin jadi trainer. Embuh trainer apa. Saya ikut seminar bisnis dan motivasi dimana-mana. Saya saat itu mencari yang gratis atau murah. Cara lain adalah dengan melamar panitia, untuk jadi panitia atau moderator seminar. Disana, saya yakin bisa bertemu orang-orang hebat. Maklum dengan gaji 600ribu per bulan, sulit bagi saya untuk mengikuti training yang berbiaya mahal. Saya dan istri juga bukan dari keluarga mampu, rumah masih ngontrak. Salah satu ilmu yang saya dapat saat itu adalah pentingnya menulis buku. Dan alhamdulillah Tuhan memperkenalkan saya dengan Pak Jamil Azzaini yang memacu saya untuk menulis buku yang memotivasi diri sendiri dan orang lain.
Saya menulis buku mulai tahun 2010, membuat tim tahun 2011, bisa menembus penerbit mayor tahun 2012.

Saya member pelatihan penulisan di tahun 2012.

Dan Alhamdulillah, semuanya buyar (baca: berantakan) di tahun 2012 akhir. Buku-buku saya sangat sulit dijual, apalagi dijadikan modul training. Ditambah lagi saat itu saya masih trainer yang sangat pemula di dunia pelatihan. Tim saya mulai sibuk dengan aktifitas masing-masing. Dan buku yang ada di penerbit mayor, ternyata butuh dana besar untuk menebusnya. Saat itu yang ada di benak saya, yang penting saya harus bekerja, halal dan berpenghasilan. Karena saya sudah memiliki dua buah hati.

Dan berkat pengalaman tadi ternyata saya banyak menguasai ilmu desain dari banyak software, ilmu event organizer, penulisan buku, marketing hingga membuat bagaimana langkah membuat perusahaan training. Tertatih-tatih memang. Hampir putus asa memang. Dan alhamdulillah, syukur pada-Nya karena saya bisa diberi kesempatan merasakan beratnya pembelajaran. Istilahnya, saya dipaksa untuk “Larilah Shofa Marwa”.

Di akhir 2013 pun saya harus menghadapi kenyataan istri yang resign dari dunia kerja. Artinya, tulang punggung keluarga sekarang murni di tangan saya. Mau tidak mau saya harus meningkatkan penghasilan. Sama atau bahkan lebih dari penghasilan kami berdua sebelumnya. Saat saya masih berpikir bagaimana cara untuk merintis CV Kreasi Presentasi dan membranding perusahaan, saya dan keluarga harus berangkat ke Jepang. Penghasilan yang tak pasti, beasiswa yang tak seberapa, memaksa saya juga baito (kerja paruh waktu) di negeri sakura. Dari jam 9 pagi, hingga jam 10 malam. 3 kali seminggu, gantian dengan istri untuk menjaga anak-anak di apartemen kecil kami. Alhamdulillah, teman-teman di dunia maya menganggap hidup kami sangat berkecukupan saat itu. Padahal…., tapi apapun itu Alhamdulillah.

Saya, istri dan anak pertama di upacara kelulusan TK.

Lagi-lagi Allah menunjukkan kuasa-Nya. Di Jepang saya berkesempatan belajar dengan penulis Presentation Zen yang mendunia. Bergabung dengan komunitas TEDx yang juga mendunia. Berkenalan dengan rekan-rekan PPI di seluruh Jepang yang sangat bersahabat dan membantu kami sekeluarga. Pak Rustono, pengusaha tempe terbesar Jepang di Shiga, Mas Teguh dan Mbak Komang, pemilik Sariraya, supermarket makanan halal dan asia di Nishio, merupakan pengalaman yang luar biasa.

Bersama Pak Rustono, pengusaha tempe terbesar di Jepang.

Dan tak disangka ketika tinggal di Jepang, saya pun sempat 3 kali PP Jakarta-Nagoya untuk memberi pelatihan di lebih dari 5 perusahaan, BUMN dan kementerian. Saya pun masih bisa menyempatkan diri untuk pulang dan sungkem pada kedua orang tua di Surabaya, baik orang tua saya maupun orang tua istri. Ya. Lagi-lagi tugas kita ibarat berlari shofa marwa.. Tuhanlah penentu hasilnya.

Roda dunia terus berjalan. Usia pun terus bertambah. Yang ada di benak saya sekarang adalah bagaimana meningkatkan kapasitas diri, mengkader tim dan bermanfaat bagi orang lain. Saya pun melanjutkan kompetensi dengan mengambil sertifikasi infografis di Singapura. Modal nekat. Yang penting, larilah Shofa Marwa. Allah-lah penentu hasilnya.

Menyempatkan diri foto di Merlion Park, usai pelatihan sertifikasi infografis di Singapura.

Saat ini tim Kreasi Presentasi pun terus berusaha menjadi yang terbaik dalam memberi pelatihan infografis & slide professional. Sudah lebih dari 63 perusahaan, BUMN dan kementerian yang menggandeng kami untuk kerja sama. Dan dari data yang masuk, lebih dari 85% dari klien kami repeat order. Alhamdulillah.

Hehe… mohon maaf, saya nulis agak panjang. Apa sih kesimpulannya? Siapapun Anda, apapun impian Anda, lari-lah, gerak-lah, kerja-lah… seperti Siti Hajar yang berlari antara Shofa dan Marwa. Bukan keputusan kita untuk menentukan masa depan dan rezeki, karena itu semua ada di tanganNya. Namun Tuhan pasti melihat kesungguhan, kerja keras, dan usaha kita. Tiap tetes keringat kita pasti diperhitungkanNya, karena Dia Maha Adil dan Bijaksana. Mungkin di awal akan terasa berat, susah dan hampir putus asa. Namun saat doa kita dikabulkanNya, kita akan bersyukur pernah berlelah-lelah meraihnya.

Maka, larilah Shofa Marwa.

Salam Amazing.

Klik untuk Daftar Pelatihan kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISI DULU YA * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.