BLOG

Juara di Hati

Kemarin, saya seharian berada di apartemen kota Kariya untuk menemani dua buah hati, karena istri saya sedang berada di Nagoya untuk mengikuti lomba pidato mahasiswa asing tingkat perfektur (propinsi) Aichi. Pemenang lomba ini akan melaju ke lomba pidato tingkat nasional di Tokyo. Istri saya bersama kontestan lain dari Mongolia, China, Vietnam, Uzbekistan, Korea, Perancis dan lainnya. Sebelum berangkat istri saya berkata, “Kalau tidak menang ga papa ya Mas.” Saya pun tersenyum dan menjawab, “Hehe.. menang kalah bukan masalah, berikan yang terbaik ya sayang… inspirasi audiens disana.

Lebih dari 1 bulan istri saya menyiapkan naskah pidato ini, meminta masukan saya tentang isi dan alur pidato. Dia pun berlatih hampir setiap hari. Durasi pidato yang singkat, sekitar 8 menit dan mengharuskan menghapal pidato membuatnya bekerja keras. Terkadang dia meminta masukan kepada saya tentang intonasi, ekspresi dan durasi pidatonya.

Tema lomba pidato ini cukup luas, diantaranya pengalaman menjadi mahasiswa asing di Jepang dan peran mahasiswa untuk perdamaian dunia. Wow.. cukup berat jika harus disampaikan dalam waktu 8 menit, setelah berdiskusi akhirnya kita menyederhanakan naskah, istri saya bercerita tentang bagaimana perasaan nya sebagai ibu yang tertahan tidak bisa bertemu dengan buah hatinya selama 6 bulan di Jepang, tidak bisa menemani sang buah hati, tidak bisa memeluknya ketika sakit (silakan baca artikel saya sebelumnya). Sebagai penutup istri saya mencoba mengetuk hati audiens tentang pentingnya keluarga lebih dari segalanya.

Apakah istri saya menang? Sebelumnya kita berdua sudah membahas, bahwa kemungkinan naskah ini menang sangat kecil, karena pihak penyelenggara merupakan organisasi sosial yang sering membantu para pengungsi di negara yang dilanda peperangan dan bencana. Dari tema saja sudah tampak, bahwa naskah kami terlalu sederhana, terlalu simpel, namun kami tidak mengutamakan jadi juara dengan penilaian logika juri. Kami ingin jadi juara di hati audiens. Mengetuk hati mereka, menyadarkan nilai keluarga dan mencoba memberi inspirasi pada warga Jepang yang umumnya workaholik. Ya, saya ingin istri saya memberi presentasi dari hati.

Istri saya memang tidak memenangi perlombaan, dari sekian peserta, dirinya menempati posisi ke-4. Namun apa yang kami niatkan dari awal, menjadi juara di hati audiens pun terkabul. Berikut jalannya lomba pidato dan tanggapan audiens yang istri saya tulis di Facebook:

***

pidatoBagi org lain, pidatoku mungkin biasa saja. Namun sangat bermakna bagiku. Pidatoku berisi tentang bagaimana seorang ibu yang tertahan kerinduannya kepada kedua buah hati di negeri lain, betapa dia sangat berterimakasih dan memberikan penghormatan yang teramat sangat kepada suaminya, yang telah memerankan dua peran penting sekaligus, bagi buah hatinya. Peran sebagai seorang ayah dan ibu. Betapa kata “terima kasih” itu tak cukup untuk menggantikan pengorbanan suaminya, yang telah mendukung kehidupannya sepenuh hati.

Ya, pidatoku kali ini, memang kutujukan kepada keluargaku, kepada suamiku dan buah hatiku. Pidato ini adalah kado untuk milad suamiku dan peringatan ulang tahun pernikahan kami yang ke-7 tahun. Sedikit lebih cepat 12 hari memang. Tapi, inilah kado yang bisa kupersembahkan untuk kebersamaan kami berdua, untuk kebahagiaan kami berempat hingga detik ini.

Hatiku bergetar, tatkala kulihat beberapa audience mengusap air mata yang hendak mengalir dari pelupuk matanya. Betapa gembira hatiku, bisa menginspirasi puluhan (ratusan?) audience. Beberapa di antaranya, menghampiriku seusai turun dari podium. Mereka menyalami tanganku, beberapa ibu-ibu bahkan memelukku erat seraya berujar “Hontou ni kandou shita yo, yori fukai hanashi wo kikasete itadaite, arigatou ne.”

pidato2Ada yang tersadar dan menyesal kenapa dulu memutuskan untuk tak memiliki anak, hingga kini kesepian di masa tuanya. Ada yang terketuk hatinya, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mengabaikan anak-anaknya. Ada yang berterimakasih dan tersadar, bahwa ternyata selama ini dia sangat jarang memuji segala kebaikan pasangannya.

Aku bukan ibu dan isteri yang sempurna, aku masih jauuuh dari sempurna. Namun setidaknya, aku bisa mengungkapkan segala rasa terima kasih dan hormatku kepada suami dan anak-anakku. Sebuah perasaan dari hatiku yang terdalam. Dan aku akan terus berbenah diri, menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga dan keluargaku.

Betapa aku mencintaimu suamiku.
Betapa aku sangat sayang padamu, permata hatiku.
Bahwa aku bahagia menjadi anak dari ibu dan bapak, yang tak membiarkanku menjadi anak yang manja. Berkat segala didikan merekalah, aku yang sekarang ini ada.

***

Terima kasih istriku, aku bangga menjadi pendampingmu, aku bangga bisa menemanimu selama 7 tahun ini, aku bangga bisa menjadi ayah dari dua buah hati kita. Bagiku, sampai kapanpun, kau juara di hati ku.

You’re Amazing my love.

TAGS > , , , , , , , , , , ,

  • Presentasi Berkesan dari Pengalaman - Dhony Firmansyah | Pakar Slide

    […] Saya yakin pengalaman itu pasti ada. Dan setiap orang pasti berbeda beda. Untuk membuat audiens tak berpaling dari presentasi Anda, Anda tinggal mengolahnya dengan detail, menyisipkan dialog hingga audio visual yang membangkitkan emosi audiens. Wah, kelihatannya mudah ya Pak…, apa memang menyusun presentasi berkesan dari pengalaman itu tidak sulit? Sulit atau tidak, bagi saya tergantung dari keseriusan kita untuk membuat presentasi tersebut berkesan bagi audiens. Berikut adalah tips presentasi berkesan dari pengalaman yang sudah saya uji coba dalam sejumlah presentasi diantaranya materi Amazing Slide Presentation dan pidato istri saya di International Speech Contest Nagoya, Jepang: […]

    Reply
  • Presentasi itu Menyenangkan - Pakar Slide | Slide Designer & Trainer

    […] Presentasi itu menyenangkan, karena presentasi adalah komunikasi ide, berbagi gagasan. Bayangkan jika gagasan kita diterima orang dan bisa mengubah hidupnya. Saya beri contoh sederhana. Saat istri saya berpidato tentang keluarga kami di Lomba Pidato tingkat Provinsi Aichi-ken, Jepang, banyak diantara audiens yang menitikkan air mata. Mereka tersadar berharganya arti sebuah keluarga. Bahkan tidak sedikit yang memeluk istri saya dengan hangat dan mengucapkan terima kasih. Presentasi itu menyenangkan, apalagi jika kita mampu mengubah persepsi dan hidup orang lain. Anda bisa menyimak artikel tentang pidato istri saya, disini. […]

    Reply

Post a comment