Jejak Digital Positif

Malam ini saya membaca timeline Twitter saya, tentang seorang wartawan tabloid olahraga yang di-cut secara tidak hormat oleh atasannya, karena beberapa Twit-nya bernuansa negatif dan memicu kegemparan di dunia maya. Bahkan hashtag boikot tabloid tersebut sempat beberapa jam menjadi trending topic di Twitter. Meski sang jurnalis telah meminta maaf secara terbuka, nasi telah menjadi bubur. Jejak digital yang tertinggal telah meninggalkan luka. Dan luka itu menganga. Energi negatif telah tersebar. Energi itu kemudian kembali dan memayungi dirinya.

Hal ini bukan sekali dua kali terjadi di dunia maya. Banyak selebritis, orang ternama maupun masyarakat biasa yang tiba-tiba namanya naik dan menjadi viral gara-gara statusnya, tulisannya ataupun gambar yang dia posting di-share banyak orang. Tentu ada dua makna. Di share dalam arti positif atau di-share dalam arti negatif.

Jejak digital mampu mengubah hidup seseorang. Karirnya, keluarganya bahkan hidupnya. Jejak digital positif akan membawa keberkahan hidup. Diikuti banyak orang yang dengan segera berubah ke arah yang lebih baik. Dan membuat nama sang pembuat status harum di dunia dan mulia di akhirat. Sedangkan jejak digital negatif, dalam waktu singkat mampu mengubah langit yang cerah menjadi kelam. Masa depan yang tampak bahagia menjadi suram. Tinggal kita yang memilih, mau menuliskan jejak digital positif atau negatif.

Lalu seperti apa jejak digital yang positif itu? Saya mencoba merangkum dari beberapa referensi termasuk dari buku The Art of Social Media karya Guy Kawasaki. Berikut adalah langkah meninggalkan jejak digital positif:

1- Ukur kebaikan dan keburukan sesuatu berdasar agama Anda.

Akal manusia serba terbatas. Dipengaruhi oleh lingkungan, kecenderungan, kebiasaan dan subyektifitas. perselisihan dan perbedaan pendapat mudah sekali terjadi. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya kita mendasari semua aktifitas kita dengan panduan dari agama. Sebagai muslim pun saya berpendapat bahwa berita hoax adalah fitnah yang sangat kejam dan dilarang oleh agama. Maka ukurlah plus minus aktifitas media sosial kita dengan agama.

2- Share sesuatu yang sudah pasti kebenarannya.

Meninggalkan jejak digital positif salah satunya dengan menampilkan sesuatu yang sudah pasti kebenarannya. Share sesuatu yang manfaat. Share sesuatu yang menggugah empati. Share sesuatu yang memicu motivasi dan inspirasi. Tentunya dari sumber terpercaya. Saya pun selalu menyampaikan pada tim Kreasi Presentasi untuk selalu membuat reportase workshop slide presentasi dan infografis di berbagai corporate dengan mencantumkan tanggal dan foto kegiatan, sehingga reportase tersebut benar-benar valid.

3- Jangan terbawa emosi dan perasaan.

Dunia maya berbeda dengan dunia nyata. Anda tidak tahu siapa yang Anda hadapi. Tetaplah obyektif. tetaplah berpikir jernih. Jangan mudah terbawa emosi dan perasaan jika ada status negatif. Anda bisa mengabaikan. Anda pun bisa mencari kebenaran. Anda pun bisa memblokir akun yang Anda rasa tidak sesuai dengan prinsip hidup Anda. Cukup.

4- Tanggapi komentar maksimal 2 kali.

Guy Kawasaki berpendapat, sebaiknya kita berbalas komentar di jejaring sosial maksimal 2 kali. Hal ini untuk menghindari salah paham hingga terbawanya emosi dan perasaan. jangan menjadikan jejaring sosial sebagai ajang debat dan perselisihan, karena tulisan Anda akan dibaca orang lain. Tentu kita tidak ingin rekan-rekan jejaring sosial mengambil simpulan negatif tentang kita.

5- Jangan menanggapi jika kita tak punya data dan fakta.

Stop menanggapi status orang lain jika tidak memiliki referensi, data serta fakta. Semua tanggapan dan tulisan kita akan terekam jelas. Pengguna sosial media lainna bisa mengcapture tanggapan Anda, pendapat Anda dan menyampaikan simpulan sesuai dengan logikanya. Padahal simpulannya tidak selalu benar. Oleh karena itu tanggapilah status orang seperlunya saja.

Nah, itulah sedikit catatan dari saya tentang meninggalkan jejak digital positif di jejaring sosial. Teruslah menyampaikan hal positif, hal-hal yang membangun dan hal-hal yang sesuai dengan tuntunan agama. Semoga kita makin bijak dalam bersosial media.

Salam Amazing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISI DULU YA * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.