BLOG

Istriku Seorang Chef

Saya sering mendengar tentang kata afirmasi, ketika saya mengikuti training atau pelatihan motivasi. Afirmasi, sebuah kata yang bermakna penegasan. Namun penegasan yang dimaksud disini bukan termasuk kalimat perintah. Afirmasi sendiri lebih mendekat ke arah doa atau pengharapan. Keyakinan bahwa cita-cita dan keinginan kita akan terwujud. Bagaimana contohnya? Mungkin Anda yang sering membaca artikel tentang inspirasi dan motivasi hidup jauh lebih memahami definisi afirmasi daripada saya. Kalimat seperti, ”Saya pasti bisa.”; ”Menggapai cita-cita itu mudah.”; ”Saya mampu menjadi yang terbaik.”; adalah beberapa contoh afirmasi yang bisa menambah keyakinan, mengumpulkan energi positif sekaligus menggerakkan jiwa dan raga ke arah kemajuan.

Kurang lebih seperti itulah teorinya. Meski banyak sekali contoh yang disebutkan oleh para trainer seperti Mario Teguh, Andrie Wongso, maupun Jamil Az Zaini, tentang kisah indah yang terwujud karena diawali oleh sebuah afirmasi, namun hal ini belum menambah kepuasan hati saya. Mungkin karena kisah penuh hikmah tersebut, belum benar-benar terjadi dalam hidup saya. Hingga saya menikah, saya masih belum yakin terhadap sebuah afirmasi. Apakah benar afirmasi bisa memberikan energi positif bagi kita maupun orang lain? Apa afirmasi memang sebegitu hebatnya, hingga bisa menggerakkan manusia sampai ke gerbang kesuksesan? Itulah sebuah pertanyaan yang masih menggelayut dalam benak saya.

Selepas saya melangsungkan pernikahan, istri saya menyampaikan hal yang cukup mengejutkan bagi saya. Dia mengatakan, ”Mas, aku ga bisa masak lho.” Wow, ini cukup mengagetkan. Istri saya kembali menambahkan, ”Selama SMA dan menjadi mahasiswi, aku belum pernah menyentuh bumbu dapur sekalipun.” Whats? Ini lebih mengejutkan lagi. Hm…pada awalnya saya mencoba untuk tenang. Saya sempat positif thinking, ah…mungkin istri saya bergurau. Dia ingin memberi kejutan bagi saya. Dia ingin merendah, masakannya pasti enak. Jauh lebih lezat dari masakan di restoran mewah.

Dugaan saya ternyata meleset. Apa yang dikatakan oleh istri saya memang benar. Dia jujur. Sangat jujur. Saya masih ingat ketika istri saya pertama kali menggoreng tempe. Awalnya saya menunggu hasil masakannya sambil mengerjakan tugas kantor yang belum saya tuntaskan. Hingga beberapa menit kemudian, istri saya mendekat sambil membawa hasil gorengannya, ”Mas…maaf ya, Umi ga bisa masak, gorengannya terlalu matang.” Saya tersenyum padanya, sambil membelai bahunya, saya mengatakan, ”Ga apa-apa Umi.” Namun, betapa terkejutnya ketika saya melihat tempe hasil gorengannya. Hebat, sungguh hebat, gorengannya sangat merata. Tempe yang awalnya berwarna putih, sekarang berwarna hitam kelam. Di saat saya mencicipi tempe yang telah digoreng, istri saya sedikit mengernyitkan dahinya, sambil memejamkan mata. Sangat tampak, istri saya merasa bersalah dan dia takut rasa dari tempe itu tidak lezat di lidah. Karena terlihat dari bentuk dan warnanya. Gosong.

Saya mencoba membesarkan hati istri saya. Sambil memakan tempe yang telah dia goreng, saya mengatakan, ”Hm…enak sekali umi, tempe ini penuh cinta, ya mungkin agak kematangan tapi sedap lho.” Saya kemudian berjalan ke dapur sambil menggandeng tangan istri saya. Saya memberitahukan padanya, bahwa untuk menggoreng, api jangan terlalu besar, sehingga apapun yang kita goreng bisa matang hingga ke dalam. ”Nah, kalau sudah kecoklatan, segera diangkat dari penggorengan ya.” Ujar saya.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , ,

  • syarah

    Wah….beruntung ya istri Anda. Punya suami yang peduli dan selalu menyokong istri. Selamat !

    Reply
    • pemenangkehidupan

      alhamdulillah, terima kasih atas comment-nya, semoga Anda memiliki kluarga yang selalu mendukung dan mendoakan Anda. Tabung energi positif ya…

      Reply

Post a comment