BLOG

Hati-hati dengan Tutur Kata

Hati-hati dengan tutur kata. Sabtu kemarin, sepulang dari Jakarta, saya dijemput oleh keluarga. Istri dan dua anak saya. Pertemuan kami berlangsung hangat. Rasa kangen pun melebur sudah. Istri saya pun bercerita. Bahwa Mas Naoki sedang tidak enak badan pagi hari itu. Padahal kami bersepakat untuk berenang. Anehnya, kata istri, Mas Naoki menjadi giras saat di bandara. Panas badannya seakan terlupakan. Meski demikian, karena tidak membawa perlengkapan berenang. Akhirnya mobil pun meluncur pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, rasa kantuk pun mulai menyerang saya. Maklum, pesawat saya berangkat jam 6. Sehingga saya harus berangkat ke bandara sekitar jam setengah 4. Artinya, saya harus bangun sekitar jam 2 untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Istri dan anak-anak saya pun izin untuk berangkat ke kolam renang bertiga, tanpa saya. Saya pun bertanya, “Apa tidak khawatir nanti panas lagi?” Mas Naoki pun menggeleng. Artinya, tekat untuk renang sudah bulat. Akan tetapi beberapa detik kemudian, entah kenapa tiba-tiba saya ingin ikut mereka bertiga. Mereka bertiga pun girang. Istri saya pun berkata, “Masya Allah, demi anak-anak, abi ikut kita.”

Belum 500 meter mobil berjalan, saya pun bertanya kenapa putra-putri saya tidak membersihkan kamarnya. Tidak melakukan tugas keseharian di rumah. Lebih memilih bermain dan mau berangkat berenang. Seakan saya tahu segala hal di rumah saat saya di Jakarta. Seakan saya yang paling banyak bekerja dibanding istri dan anak-anak saya.

Tidak diduga, istri saya pun menghentikan mobilnya. “Abi capek ta, kalau capek, kita pulang saja. Kenapa dipaksakan ikut? Lebih baik kita membersihkan rumah, daripada hatiku ikut lelah, tidak gembira bersama anak-anak.” Deg… seakan wajah saya ditampar. Kebanggaan istri karena saya meluangkan waktu untuk anak-anak sirna sudah. Istri saya pun memutar mobil dan kembali ke arah rumah. Raut mukanya dingin. Kemungkinan besar hatinya sebel dengan saya. Tapi yang luar biasa, dia memendam rasa marahnya. Menahan untuk tetap tidak mengucapkan hal-hal yang buruk. Diam untuk menahan perasaannya.

Sesampai di rumah, kami sekeluarga pun berberes rumah. Rencana berenang sekeluarga kembali tertunda. Gara-gara ucapan saya. Hanya karena kata-kata saya. Cuma karena saya yang tidak bisa menahan hati. Saya pun segera meminta maaf kepada istri dan anak-anak saya. Sebagai seorang Ayah, seharusnya saya mampu menahan diri. Memberi contoh yang baik, baik tutur kata maupun perbuatan.

Hari itu saya belajar. Hati-hati dengan tutur kata. Tahanlah diri untuk tidak mengucapkan kata-kata negatif. Ungkapkanlah hal-hal positif atau diam. Meski kita lelah setelah bekerja. Meski kita dapat banyak masalah di tempat kerja. Rumah dan keluarga adalah dunia yang berbeda. Seharusnya kita menahan diri untuk melupakan urusan kantor sejenak dan fokus dengan mereka. Jika di kantor penuh tanggung jawab, di rumah juga. Bedanya tingkat rasa cinta, ikatan dan perasaan dalam keluarga jauh di atas tempat kerja. Sekali lagi, hati-hati dengan tutur kata. Apalagi di depan orang yang kita sayangi. Keluarga kita. Perasaan mereka jauh lebih besar dari orang sekitar Anda.

Maafkan aku istriku.

Maafkan Abi anak-anakku.

Terima kasih atas pelajaran yang luar biasa untuk Abi hari itu.

Love you.

TAGS > , , , , , , , , , ,

Post a comment