BLOG

Dikenang sebagai Apa?

Setiap manusia hidup di dunia untuk sementara. Tidak ada satupun makhluk yang kekal di dunia. Masing-masing individu punya batas waktu, dan tak ada satupun yang tahu. Dalam dua bulan ini, keluarga saya sedang berduka. Nenek saya Mbah Ti, yang meninggal di usia hampir 100 tahun. Paman saya meninggal di usia sekitar 35 tahun, dan sepupu saya, Jenny meningal di usia 21 tahun. Sungguh sebuah teguran untuk saya, supaya memanfaatkan waktu sisa saya di dunia dengan sebaik-baiknya.

Ketika saya berbincang di Depok dengan founder KataPedia.com, Mas Noval Ramsis ada satu kalimat yang sampai sekarang saya masih ingat, “Ketika Anda sudah meninggal. Siap untuk dimakamkan dan sedang berada di dalam keranda, Anda ingin dikenang sebagai apa oleh orang-orang yang menghantarkan Anda ke liang lahat?” Kata-kata Mas Noval begitu mengena dalam diri saya. Sudahkah kita memikirkan bahwa di saat kita meninggal nanti, kita dikenang sebagai apa?

Saya pun mencoba merefleksikan diri dengan aktifitas saya selama ini. Sudahkah kegiatan saya memberi manfaat bagi orang lain? Sudahkah impian saya bisa menebar kebaikan untuk sesama? Begitu banyak orang yang bermimpi supaya punya harta yang berlimpah dan kedudukan yang tinggi, tapi tidak banyak yang memikirkan manfaatnya bagi orang lain. Sibuk memperkaya diri tapi menyengsarakan sesama.

Apakah kita tidak ingin, orang tua kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita dan saudara kita mengenang terus menerus kebaikan yang kita lakukan? Apakah kita tidak mau harta, ilmu dan energi positif yang kita berikan di dunia terus mengalir deras sebagai tabungan pahala meski kita sudah meninggalkan dunia? Apa kita tidak ingin, istri atau suami serta anak-anak kita tersenyum bahagia melihat manfaat yang sudah kita tebarkan untuk sesama?

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , ,

Post a comment