BLOG

Dialah Istri Saya

Sebagai seorang trainer, saya harus memberi inspirasi dan motivasi bagi banyak orang. Di depan mereka, saya harus tampil optimal. Menurut guru saya, adalah sebuah larangan membawa permasalahan pribadi ke depan publik. Apalagi sampai mempengaruhi performance trainer. Namun di sisi lain, saya pun manusia. Naik turunnya semangat terkadang tak bisa dihindari. Saat-saat seperti ini, saya membutuhkan dukungan dan dorongan dari orang lain. Orang terdekat, yang bersedia mendampingi saya ketika senang maupun susah.

Dialah istri saya, Istikumayati. Sang pendamping yang selalu setia memberikan semangat dan dorongan supaya saya terus maju, apapun resikonya. Dari perasaan dan cintanya, ada sejumlah kalimat yang selalu saya ingat sampai sekarang. Kata-kata istri saya bagaikan setetes air di gurun yang gersang. Mungkin tanpa dia, saya akan sulit bangkit dari berbagai masalah.

Di saat saya mengawali karir sebagai trainer, saya sempat ragu untuk pergi ke bogor dan berlatih training disana, namun istri saya berkata, “Mas.., kalau Mas ragu tidak perlu pergi. Sebaliknya, kalau Mas yakin ini jalan terbaik dan disana ada keridhoan Allah, berangkatlah Mas. Apapun keputusan Mas, Umi siap mendukung.”

Ketika training saya sedang sepi dan banyak rezeki kami yang masih di tangan orang lain, dimana mereka pun masih kesulitan keuangan, istri saya berkata, “Mas, bukankah Tuhan tidak akan salah memberikan rezekinya. Rezeki apa yang lebih besar di dunia selain istri dan anak-anak? Uang bisa dicari Mas, dan rezeki kita yang masih di orang lain itu jangan jadi beban. Kalau perlu ikhlaskan. Karena jika kita ikhlas, Tuhan akan mengganti puluhan kali lipat. Bukankah Mas sering cerita tentang Ust. Anwar Sani dan keajaiban sedekah ketika berada di Bogor?”

Di saat saya hampir kehilangan gelar S2 saya, istri saya pun berkata, “Mas, bukankah sampeyan pernah bilang, kesuksesan bukan karena gelar. Orang-orang yang ikut training, mereka mau datang bukan karena gelar S2 yang sampeyan miliki. Tapi karena keahlian yang sampeyan ajarkan. Keahlian sampeyan pun tidak diperoleh dari S2. Apapun yang terjadi saat ini itu rencana Tuhan. Mas diperbolehkan kuliah itu atas izin-Nya. Kalaupun harus berhenti disini, itupun karena Allah. Mas tidak perlu bingung dengan banyaknya dana yang keluar selama ini. Sampeyan S2 atau tidak, Umi masih tetap cinta dan jadi pendampingmu. Begitu pula anak-anak. Mereka cinta Abinya bukan karena gelar, tapi karena ketulusanmu.” Air mata menetes ketika mendengar apa kata istri saya.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , , ,

Post a comment