Buku Pertama Nada Kumiko

Sewaktu bersekolah di Igaya Youchien (TK Igaya), Kariya-Shi, Jepang, kreatifitas putri saya Nada Kumiko benar-benar terasah. Setiap pulang sekolah, ada saja yang dia bawa ke rumah. Mulai dari kardus yang dibentuk seperti sebuah bangunan, kamera hingga rumput dan tanaman liar yang dirangkai mirip ikebana. Semua ini membuat Nada Kumiko bersemangat saat sekolah. Saya dan istri pun ingin menjaga kreatifitas ini tetap bersinar dengan membiarkan Nada Kumiko mengikuti kesenangannya. Salah satu hobi yang paling menonjol dari Nada Kumiko adalah kebiasaannya menggambar bersambung, menggambar sesuatu dengan alur cerita. Inilah yang kemudian kami abadikan di dalam buku pertama Nada Kumiko.

Toriko dan Sabhondama, inilah judul buku pertama Nada Kumiko. Ide cerita dan ilustrasinya, dibikin sendiri olehnya. Buku ini merupakan buku cerita bergambar dalam 3 bahasa. Bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang. Untuk bahasa Inggris, kami meminta bantuan rekan kami Callie Johnson asal Amerika Serikat dan untuk Bahasa Jepang, Hiroshi Ota bersedia membantu tulisan Nada Kumiko ini. Kedua teman kami tadi merupakan rekan di Aichi University of Education.

Bagi saya dan istri, tujuan kami untuk membukukan kisah tersebut adalah untuk mengabadikan semangat Nada Kumiko, supaya dia tetap berusaha untuk belajar sesuai dengan kesenangan dan hobinya. Bukan saya dan istri yang menentukan masa depan anak kami. Nada Kumiko sendirilah yang berhak menentukan impiannya nanti. Saya dan istri hanya sekedar mengarahkan, memberi jalan dan meluaskannya sehingga putri kami bisa meraih impiannya dengan bahagia. Anda pun bisa memesan buku full color ini di 0857 3333 0407.

Apapun yang Mbak Nada Kumiko lakukan, asal positif, maka kami sebagai orang tuanya akan dengan gembira mendukungnya. Termasuk terbitnya buku pertama Nada Kumiko ini. Pernah Mbak Nada mengatakan keinginannya untuk menjadi koki, pelukis, pebulutangkis dan sebagainya. Yang penting Mbak Kumiko suka dulu. Suka dalam mengerjakan dan suka dalam belajar. Pernah Mbak Kumiko mengikuti les menggambar, hobi yang selama ini dia sukai, namun setelah mengikuti les gambar tersebut, Mbak Nada malah malas untuk menggambar dan berkarya. Ternyata ketika les, sang guru menerapkan metode belajar orang dewasa yang serius, bukan anak-anak yang penuh canda dan main. Padahal Mbak Nada masih kelas 1 SD. Ini sebuah pelajaran bagi saya, ternyata cara pembelajaran sangat berpengaruh dalam meningkatkan minat seseorang.

Maka sudah selayaknya saya dan istri mendukung apapun hobi putra-putri kami saat ini. Asal positif dan tak bertentangan dengan ajaran agama. Mohon doanya supaya Nada Kumiko bisa menjadi anak yang bahagia dengan hobinya, makin tekun belajar dan terus berkembang sebagai anak yang sholehah.

Aamiin.

Salam Amazing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISI DULU YA * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.