BLOG

Berkeluarga itu Memperluas Epos

Pernah suatu waktu, anak saya (Nada) mengingatkan betapa pentingnya pelukan dan sapa dari orang tua. Saat itu, saya sedang sibuk dengan pekerjaan saya, sehingga saya lupa mencium dan memeluknya ketika pulang dari sekolah. Dirinya kemudian menangis dan berkata pada ibunya, “Abi nakal, Abi ga sayang Nada.”

Istri saya kemudian menyampaikan kata-kata si kecil. Saya tersadar, bahwa saya bekerja untuk membahagiakan keluarga. Apa artinya pekerjaan jika kebahagiaan keluarga kita abaikan? Saya kemudian berlari dan memeluk Nada, meminta maaf dan mengatakan, “Abi cinta Nada. Maafin Abi ya Nak.”

Ini adalah contoh sebuah perbedaan yang terjadi dalam hidup saya. Semenjak berkeluarga saya merasakan hidup saya benar-benar berbeda. Perasaan saya berbeda. Logika saya berbeda. Cinta kasih saya pun berbeda. Apa bedanya?

Di saat saya masih single, belum mengenal makna istri, anak dan keluarga, saya selalu mengutamakan “aku” dan “aku”. Tidak ada upaya untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama. Karena bagi saya sat itu, saya hidup untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Bukan untuk yang lain.

Tak jarang, saya berangkat kerja pagi, pulang malam. Makan tidak teratur dan sekenanya. Dan sering menunda-nunda ibadah. Namun semenjak menikah, saya merasa diri saya benar-benar berbeda. Keberadaan keluarga membuat saya sadar, bahwa saya hidup bukan hanya untuk diri saya sendiri. Namun ada juga keluarga, orang lain dan tetangga di kanan kiri saya.

Dulu saya mersa cukup ketika sudah melakukan sholat lima waktu saya, namun semenjak berkeluarga sholat sunnah pun saya lakukan, karena saya ingin kebahagiaan bukan hanya saya yang merasakan tapi juga keluarga saya. Setiap kali ada waktu luang saya selalu menelpon ke rumah untuk menanyakan kabar anak dan istri, mengucap terima kasih dan meminta doa demi kelancaran pekerjaan saya.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , ,

Post a comment