BLOG

Berburu di Kebun Binatang

Maukah Anda berburu di kebun binatang? Kedengarannya lucu, hewan sudah berada di dalam kandang, tak bisa kemana-mana, melawan pun mereka sia-sia. Kita pun dapat menentukan apa yang ingin kita bidik, gajah-kah, badak, burung bahkan singa dapat kita tundukkan dengan mudah. Posisi hewan-hewan itu pun bisa kita ketahui segampang membalikkan telapak tangan. Apakah ini bisa disebut berburu? Secara istilah mungkin saja iya, namun tentu para praktisi berburu akan sulit menerimanya.

Siapakah praktisi berburu atau para pemburu sebenarnya? Mereka adalah orang-orang yang terjun langsung ke alam liar untuk membidik hewan buruan. Sasaran mereka pun spesifik, tidak semua hewan hutan ataupun lautan luas mereka ambil. Yang mereka pilih adalah hewan dengan nilai tinggi dan yang pasti susah mendapatkannya.

Para pemburu alam liar memiliki berbagai ketrampilan, mulai dari menggunakan senapan, pisau, ranting dan dahan, pengetahuan tentang tumbuhan dan hewan beracun hingga kemampuan untuk memasak dan P3K. Alam liar tak bisa diprediksi, oleh karena itu semua keahlian ini mutlak dimiliki. Sebaliknya para pemburu di kebun binatang hanya memiliki kemampuan seadanya, toh para hewan bisa mereka dapatkan dengan mudah.

Dengan berbagai keahlian yang dalam, para pemburu di alam liar dihargai sangat mahal. Tentu ini cukup beralasan, karena mereka mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan sasaran.

Mengapa saya bercerita tentang hal ini? Jujur, hal ini saya alami sendiri. Sebelum saya terjun 100% ke dunia training dan menjadi trainer, saya ibarat berburu di kebun binatang. Saya mengisi di sekolah dan kampus yang sudah rutin mengundang saya. Saya menutup diri dari dunia luar. Saya merasa paling hebat, tak mau mendengar dan menimba ilmu dari trainer lain. Dalam benak saya, “Ngapain susah-susah, toh dunia kampus dan sekolah masih menerima saya.

Pola pikir saya berubah setelah bergabung dengan komunitas Akademi Trainer. Mata saya terbelalak. Pikiran saya dipaksa untuk terbuka. Saya melihat trainer-trainer lain yang sudah mahir layaknya pemburu di alam liar. Padahal usianya tidak jauh beda dengan saya. Sedang kemampuan saya saat itu belum apa-apa. Selama ini saya berhadapan dengan anak-anak sekolah dan mahasiswa yang secara usia dan pengalaman jauh di bawah saya. Namun di depan para praktisi, kemampuan saya berbicara di depan publik saat itu ga ada apa-apanya.

Hal ini kemudian melecut saya. Kalau mereka bisa, saya pun harus bisa. Saya pun mulai meninggalkan rutinitas yang membelenggu keahlian saya. Saya pun belajar website, SEO, jurnalistik, presentasi, organisasi, event organizer, desain dan yang paling saya dalami, slide presentasi.

Saya sharing hal ini sebab saya pun tak mau Anda melakukan hal yang sama. Berburu di kebun binatang. Padahal itu bukanlah hutan dan lautan yang sesungguhnya. Jangan sampai kita merasa paling hebat dan menutup diri dari hal baru. Dan tahukah Anda, tak ada satupun pemburu hebat yang lahir dari kebun binatang. Pemburu hebat hanya muncul dari hutan rimba dan lautan luas yang penuh rintangan sehingga memicu keahlian.

Salam Amazing.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , ,

  • Aldo Aressa

    Ya ya ya…kalau presentasi reguler dengan segmen yang sama, suatu saat presenter akan merasa expert karena sudah bisa memprediksi respon, eksyen, bahkan pertanyaan dari peserta. Akan lebih tertantang jika presentasi pada banyak segmen, misalnya presentasi dengan peserta kalangan pebisnis, seniman, komunitas hobi, pemerintahan, pecinta lingkungan hidup, dan sebagainya. Dengan audiens yang plural seperti itu, presenter diharuskan mengenal pesertanya, bahkan mempelajari aktivitas mereka walau tidak banyak. Hal ini bertujuan agar komunikasi yang terbina ‘nyambung.’
    Karena dengan peserta beragam, akan beragam pula respon, eksyen, dan pertanyaan dari peserta.
    Dan tentu saja, sang presenter akan banyak wawasan dan SEMAKIN MAHIR alias EXPERT !

    Sukses Mas Dhon ! 😀

    Reply
  • Princess Amanda @Princess_Coach9

    InsyaAllah…mw menjadi pemburu di alam liar ah…analogi yg kerON….

    Reply

Post a comment