Awas Kondom

Meski pekan kondom nasional dibatalkan, ternyata sampai sekarang hal ini jadi kontroversi. Bagi saya ada atau tidaknya pekan kondom harusnya membuat kita berpikir jernih, bahwa negeri ini sudah mulai jauh dari Tuhan. Baik secara individu, masyarakat maupun pemerintah. Hendaknya kita menjadikan agama dan Tuhan sebagai solusi terbaik perbaikan karakter manusia. Karena itulah solusi sejati.

Selain itu, alat kontrasepsi seperti kondom, hendaknya memang dipakai oleh mereka yang benar-benar sah sebagai suami istri. Bukan yang lain. Langgengnya hubungan suami istri, pastinya didukung oleh komunikasi dan saling pengertian.

Alkisah, di malam hari, seorang suami sedang asyik menyaksikan debat seputar pekan nasional kondom di televisi. Saking asyiknya, permintaaan sang istri ditanggapi dengan sekenanya.

Istri: “Mas, tolongin aku dong di dapur, elpijinya habis nih.”

Suami: “Emangnya aku tukang elpiji.” (menjawab dengan enteng)

Dengan cemberut sang istri kemudian, melanjutkan aktifitasnya.

Istri: “Mas, lampunya putus nih, bisa minta tolong gantikan lampunya? Aku ga bisa nyuci baju kalau gelap begini.”

Suami: “Emangnya aku tukang lampu.”

Lagi-lagi suami mengecewakan sang istri.

Istri: “Maaaas, air pam-nya macet. Keran di atas bak mandi ga bisa diputer nih. Benerin dong.”

Suami: “Emangnya aku tukang ledeng.”

Ga tahan dengan omelan dan permintaan sang istri, suami pun pergi keluar rumah. “Kemana Mas” tanya istri. “Mau ke warung kopi, sumpek dengerin kamu.”

Melihat suaminya dengan enteng meninggalkannya, sang istri pun menangis di depan rumah.

***

Dua jam kemudian, sang suami pun kembali ke rumah. Begitu kagetnya dia melihat tabung elpiji baru, lampu di dapur sudah menyala, dan keran di kamar mandi sudah bisa diputar. Dia pun melihat istrinya berada di kamar tidur. Istirahat, kecapekan.

Suami: “Lho, elpiji, lampu dan kerannya sudah bener. Kok bisa ya Bu?”

Istri: “Iya, tadi aku di depan rumah, nangis karena kamu tinggalin. Terus ada seorang pemuda lewat lalu nanya, “Ada apa Bu?” Ya aku jawab, kalau suamiku ga mau beliin elpiji, betulin lampu dan keran. Terus dia ngomong, “Baik Bu, saya akan bantu tapi ada syaratnya. Pilih ya. Pertama, Ibu buatin saya roti dengan selai kacang yang banyak, atau kedua, ibu selingkuh dengan saya, karena saya tadi diberi kondom di pekan kondom nasional. Gimana?”

Belum sempat istri meneruskan kalimatnya, sang suami menyela.

Suami: “Terus, berapa roti yang kamu buatin untuk dia?”

Istri: “Emangnya aku tukang roti.”

Hehehe… salam Amazing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ISI DULU YA * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.