BLOG

Antara “Jadi Apa” dan “Dapat Apa”

Guru saya selalu mengingatkan,bahwa untuk menjadi seorang yang expert, ahli dan paling mumpuni di bidangnya maka fokuslah pada “to be” (jadi apa). Untuk mengetahui apa arti “to be” lebih lengkap, silakan baca artikel saya sebelum ini (klik).

Dengan fokus untuk menjadi apa, maka kita akan lebih konsen untuk menguasai suatu keahlian, tidak lagi berpikir apa yang akan saya dapat, berapa yang akan saya peroleh, berapa rupiah yang bisa saya rengkuh dengan kemampuan ini. Inilah yang disebut “to have” (dapat apa). Keinginan dari dalam diri untuk mendapat rewards atas apa yang kita miliki.

Memang dalam jangka pendek “to have” bisa menjadi penyemangat. Misal, Anda diberi tugas kantor untuk lembur dengan nilai gaji dua kali lipat. Maka tentu Anda akan lebih bersemangat untuk bekerja. Namun ternyata jika hal ini terus menerus dijadikan landasan untuk semangat, akibatnya seseorang akan selalu ingin imbalan. Selalu ingin uang, selalu ingin materi ketika melakukan sesuatu untuk orang lain. “Wani piro” kata orang jawa.

Ketika “to have” terus menerus menjadi tolak ukur usaha, maka dalam jangka panjang akan mencelakakan, menyengsarakan, menyulitkan. Di saat “to have” tidak sesuai dengan materi yang diperoleh, bisa jadi seseorang akan mengeluh, menggerutu dan mengungkit-ungkit apa saja yang sudah dia lakukan. Ini yang membuat seseorang akhirnya tidak menjadi expert, karena selalu memikirkan imbalan. Misalnya menolong orang lain karena ingin imbalan, membantu sahabat karena ingin pamrih, adalah contoh-contoh “to have” yang bisa mencelakakan.

Pages: 1 2

TAGS > , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

  • risma

    mas trimakash banyak tulisannya sangat menginspirasi saya,,,,dan ada hal2 yang ketika saya baca sya mengiyakan tulisan mas dhony

    Reply

Post a comment